Tags

, , , , ,


09 – 18 April 2015

“If man says he is not afraid of dying, he is either lying or he is Gurkha !”

Perjalanan menuju negeri “Seribu Kuil” dimulai. Hanya sebuah wacana 2 tahun yang lalu dan baru sekarang terealisasi. Setelah melewati petugas di bandara Kuala Namu yang tak hati-hati, menyebabkan koperku pecah dan jaket yang tertinggal di rumah, Sekarang aku dan dua temanku duduk dibaris kursi Airbus A320-200, meninggalkan kotaku yang mengecil di telan ketinggian.

Setelah berhenti sejenak di negara jiran perjalanan dilanjutkan dengan maskapai yang masih bersaudara dengan maskapai  di negeriku. Maskapai yang paling sering di complaint sekaligus juga ditunggu. Mungkin ini yang disebut benci tapi rindu ? Ataukah pilihannya cuma ada itu.  Ku coba saja menikmati penerbangan yang penuh dengan orang yang lalu lalang, mereka saling bertegur sapa. Atau jangan-jangan mereka semua memang bersaudara. Tak jarang terdengar nada tinggi keluar dari mulut cantik pramugari, memperingatkan penumpangnya untuk duduk dan memasang sabuk pengaman. Negeri macam apa yang akan aku datangi ? Aku putuskan untuk tidur, membiarkan diriku masuk ke alam mimpi.

Waktu di jam tangan ku menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat waktu roda Boeing 737-900 menyentuh landasan bandara Tribhuvan.

“Selamat datang di Kathmandu kota debu”

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi yang kiranya hanya basa basi aku keluar menyusuri koridor, melewati toilet yang membuatku sesaat tak ingin memiliki indra penciuman.

Di Thamel, aku dan dua orang temanku memutuskan untuk menginap.  Bagian dari kota Kathmandu yang dipenuhi hiruk pikuk turis dan disesaki toko souvenir. Lalu lintas yang kacau balau, bunyi klakson dan teriakan tak ada hentinya, debu beterbangan memasuki semua tempat yang berongga, gang dan lorong-lorong sempit tanpa petunjuk hampir pasti menyesatkan orang baru sepertiku.

Segelas teh susu di pagi hari, Kathmandu

Segelas teh susu di pagi hari, Kathmandu

Thamel Kathmandu

Thamel Kathmandu

Temple

Temple

Menempati kamar di lantai 5 membuat nafas tersengal setiap kali harus naik turun tangga dan emadaman listrik yang tak terduga waktunya, bikin mood bisa berubah tiba-tiba. Beruntung kota ini menawarkan keindahan matahari terbit dan terbenam yang bisa kunikmati dari atas gedung tempat ku menginap.

“Malaysian?”, kalimat yang seringkali terdengar setiap kali aku dan teman-temanku berjalan melewati jalan-jalan sempit kawasan Thamel, sedapat mungkin kujelaskan bahwa kami dari Indonesia. Sebagian dari mereka menyebutkan Jakarta atau Bali, sebagian lainnya hanya menggelengkan kepala, bahkan ada yang menyebutkan Mongolia.

Bagaimana mungkin ada orang tidak kenal Indonesia, negara terluas di Asia Tenggara, sedemikian minimkah pengetahuan mereka tentang indonesia atau hanya kebetulan orang yang bertanya memang tidak lulus pelajaran geografi disekolahnya . Aku senyum getir sambil menghibur diri sendiri, mungkin dari 300 juta rakyat Indonesia ada orang yang tak kenal negara Nepal, jadi kita impas dalam hatiku.

Selimut kabut

Selimut kabut

Kimche

Kimche

Sejak kecil mereka dilatih mengangkat beban (Gandruk)

Sejak kecil mereka dilatih mengangkat beban (Gandruk)

Jalanan semrawut dan berlubang menjadi pemandangan biasa, sungai penuh sampah dan plastik membuatku teringat kota tempat tinggalku, Serupa tapi tak sama. Bangunan terkesan kumuh hampir terlihat di sepanjang kota. Namun keramahan penduduk terhadap pendatang memberi kesan berbeda.

Pagi itu dengan taksi aku dan temanku keluar dari labirin Thamel menuju stasiun bus. Dingin  menggigit tulang, reflek aku merapatkan jaket yang kupakai. Kiranya stasiun bus hanya berjarak 5 menit dari tempat aku menginap.

Aku hanya bisa terdiam ketika  melihat bus tak sesuai janji. Bus turis rasa lokal, itu kalimat pertama yang muncul di kepalaku. Sembari menunggu, kami menikmati hangatnya teh yang dalam bahasa setempat Cay (mirip sebutan teh di Turki), sambil meperhatikan orang-orang yang mungkin mempunyai tujuan sama, serta orang gila yang terus memaki dengan bahasa yang tak kumengerti.

Pelan-pelan bus bergerak meninggalkan kota. Jalanan berkelok dan berlubang membuat tubuhku terguncang. Kami melewati hutan dan glacier, sesekali bus melewati kota kecil serta perkampungan. Berselang dua jam bus berhenti untuk sarapan dan memenuhi panggilan alam, sekali lagi bau amoniak menyeruak menembus rongga hidungku, membuatku mual seketika, sungguh tak tertahankan.

Air terjun kecil

Air terjun kecil

Keputusan sudah dibuat “Kita trekking !”.  Kalimat itu tercetus pada saat aku dan teman-temanku berdiskusi sambil menikmati segelas kopi di pinggir danau Phewa di kota Pokhara. Seketika pula semua harus bersiap karena tak ada yang benar-benar mempersiapkan diri untuk itu, semua serba mendadak dan mengalir semaunya, Tak ada rencana dan memang itulah temanya. Urusan serba-serbi selesai, semua diserahkan kepada ahlinya. Besok perjalanan dimulai sementara aku masih tetap tak tau sebenarnya harus bagaimana.  Hari itu kami habiskan dengan menikmati matahari terbenam di jajaran gunung Himalaya dari atas Rustika guest house  temoat kami menginap.

Ramesh Thapa, pemuda Nepal  bergelar  sarjana Ekonomi akan menjadi guide kami selama di perjalanan.  Shahruz, pemuda 21 tahun bertubuh kerempeng dengan berat tak lebih dari 50 kg akan membawa semua perlengkapan kami. “Kamu jangan takut, kami kurus tapi kami kuat”, kata Ramesh seolah membaca kekhawatiranku. Mungkin ini representasi semangat dan kekuatan pasukan Gurkha yang membuat terkagum-kagum pasukan Inggris di masa kolonial dulu.

Jeep Mahindra buatan India berhenti di Kimche, setelah satu jam menguncang tubuhku. Ini adalah titik terakhir yang bisa dilalui kenderaan lalu selanjutnya berjalan kaki.  Udara terasa cukup sejuk, suhu berkisar 20 derajat celcius. Empat orang penduduk lokal yang sudah cukup berumur menurut pandanganku berjalanan beriringan bersama kami, masing-masing membawa bebannya sendiri yang diletakkan di belakang dan menggantung di kepala dengan sehelai kain atau tali.  Mirip dengan orang Papua dengan noken-nya.  Cara ini mungkin cara yang paling pas untuk menyeimbangkan beban di tubuh pada saat berjalan dengan beban.

Orang-orang ini dengan ramah menyapa kami dengan bahasa lokal, mungkin mereka menganggap kami orang Nepal. Merekalah yang menjadi penyemangatku. Kalau mereka mampu kenapa aku tidak, batinku. Hujan rintik mulai turun, suhu semakin dingin, kaki mulai tertatih menapak tangga menuju Tadapani.

Tiga jam berselang kami sampai di Gandruk. Hari sudah mulai gelap, namun Tadapani yang menjadi tujuan kami masih dua jam kedepan.  Seorang temanku sudah mulai kepayahan karena jalan yang menanjak. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap saja di Gandruk.  Ini adalah keputusan yang masuk akal, selain itu  Gandruk menawarkan pemandangan indah yang tak biasa buatku. Jajaran pegunungan Himalaya yang tertutup es di puncaknya sungguh indah.

Gandruk sungguh kontras dengan suasana yang ada  di  Kathmadu. Tak ada bau menyengat atau bisingnya musik Rock tahun 90- an yang terdengar dari Pub seberang kamarku.  Disini tak kudengar bunyi klakson dan sepeda motor bersaing dengan para pejalan kaki. Begitu sunyi dan damai disini. Ohh… aku menginjakkan kaki di kaki pegunungan Himalaya kini, hal yang tak pernah menjadi mimpi masa kecilku.

Gandruk

Gandruk

“Malam ini kita akan merayakan pergantian tahun, persis jam 12.00 nanti Nepal akan memasuki tahun 2072″,  Ramesh memulai pembicaraan pada malam itu. Ingatanku melayang ke kota Pokhara dimana orang-orang sudah bersiap menyambut pergantian tahun di lapangan pinggir danau.  Umbul-umbul dan bendera sudah terpasang pada saat kami meninggalkan kota itu. Aku membayangkan betapa meriahnya perayaan itu, namun kini aku berada  di tengah hutan.  Apa yang bisa ku lakukan ?

“Pada saat kamu hanya memiliki sedikit pilihan, maka lakukan saja tanpa berpikir.”

Saat itu aku tak peduli berapa anak tangga yang telah kulewati atau berapa anak tangga lagi yang harus kudaki, bahkan aku tak berpikir aku hari ini mau kemana. Hujan tiada henti mengiringi perjalanan hari ini, sampai-sampai aku tak tau bajuku basah karena keringat atau air hujan. Jalanan licin membuatku beberapa kali terpeleset karena keseimbangan yang mulai terganggu.

Di jalan setapak aku merapat ke tebing untuk menghindari jurang yang menganga di sebelahnya. Tak terasa sembilan jam sudah berlalu, kami tiba di Deurali. Aku merasa tubuhku semakin dingin dan tiba-tiba saja kepalaku sakit. Tanpa sadar aku  meraba dahiku, terasa hangat.  Oh Tuhan…  aku tak boleh sakit!

“Manusia akan diuji atas dua hal, diuji atas ucapannya dan diuji atas apa yang ia sayangi.”

Waktu aku menolak menggunakan mantel plastik yang di tawarkan oleh Ramesh, saat itulah aku diuji atas ucapanku sendiri. Aku melewati malam yang benar-benar menyiksa. Suhu badanku semakin tinggi, kepalaku rasanya seperti dipukul dengan martil. Hidungku mampet tak bisa bernafas, tenggorokan terasa seperti terbakar. Obat yang aku minum sama sekali tak membantu, mengenakan pakaian berlapis-lapis rasanya tak berguna. Aku semakin kedinginan. Berada di ketinggian 3000 mdpl dengan suhu 4 -7 derajat celsius benar-benar membuatku tak tahan lagi.

Kuputuskan untuk keluar dari kamar yang sempit dan menghirup udara dinging lewat rongga mulutku. Aku coba membayangkan apa yang terjadi dengan Asmujiono. Ia adalah prajurit Kopassus sekaligus orang Indonesia pertama bahkan orang Asia Tenggara pertama yang mencapai puncak dunia.  Apa yang dirasakannya pada waktu itu dan bagaimana pula siksaan yang dialaminya selama 48 hari?  Apa yang membuat beliau nekat membuka kacamata serta pelindung kepala lalu dengan bangga memakai baret merah dan memekikkan takbir “Allahu Akbar” ? Betapa bangganya aku menjadi orang Indonesia. Kebanggaan yang selalu muncul hanya kalau aku tak berada di negeri itu dan kebanggaan yang membuat aku berpikir besok aku harus menyelesaikan perjalanan ini tanpa harus menjadi beban orang lain. Malam itu kulewati hanya dengan berbaring dan berharap esok cepat tiba.

Hamparan bunga Lali Gurans (dalam bahasa lokal) berwarna merah dan merah muda menemani perjalanan pada hari ini.  Cuaca cukup cerah dan beberapa bagian puncak gunung es jelas terlihat. Aku berjalan pelan, sisa sakit semalam masih terasa. Pergelangan kaki kananku mulai terasa sakit akibat cidera yang tak pernah  diobati dengan tuntas. Kami berhenti sejenak di Ghorepani, tempat yang seharusnya menjadi tempat bagi kami menginap. Menikmati segelas teh hangat di atas gunung sungguh kenikmatan yang luar biasa dan aku menyempatkan memotret dapur ibu si pemilik warung. Beberapa turis lewat dari arah yang berlawanan, yah… pada kenyataannya trek yang kami lalui memang terbalik dan biasanya trek ini ditempuh dalam waktu 4 hari.  Ahaaayy, pantaslah kami harus berjalan selama 9 hingga 10 jam setiap hari!

Deurali

Deurali

bunga Laliguran (bahasa lokal)

bunga Laliguran (bahasa lokal)

Hari ini perjalanan kami lebih banyak menuruni bukit. Kabar menggembirakan yang bagiku sebenarnya justru agak menghawatirkan.  Aku teringat pengalaman terakhirku turun dari puncak gunung di daerahku yang ternyata terasa lebih berat ketimbang mendaki. Temanku bertanya kepada Shahruz porter kami, “Mana yang lebih berat, mendaki atau turun ?”. Dengan ringan dia menjawab, “Sama saja…”. Hahaha… baginya semua ternyata sama saja. Dengan beban 20 kg di punggungnya si kerempeng itu masih bisa berlari-lari kecil menuruni bukit dan meninggalkan kami yang masih terseok-seok mengikuti.

Hari mulai gelap, sementara di depanku masih ribuan anak tangga untuk dijalani. Kampung tempat akhir perjalanan terlihat kecil di bawah. Ingin rasanya melompat dan terbang supaya sampai secepatnya ke tempat itu. Aku tak mau bermalam lagi disini, masih banyak tempat yang harus dikunjungi. Aku mau merasakan naik Royal Enfield berkeliling kota Pokhara, jalan-jalan di Bakhtapur, kota kuno dari abad ke-14 untuk melihat perayaan tahun baru Nepal. Berkeliling Thamel naik becak ala Nepal, dan berkunjung ke Boudhanath di Kathmandu. Aku terus memotivasi diri supaya tetap kuat berjalan walaupun selangkah demi selangkah.

Warung kecil di desa Hille menjadi tempat akhir dari rangkaian perjalanan ini.  Menurut Shahruz ini adalah tempat pemberhentian akhir kami sebelum di jemput jeep menuju Pokhara. Alhamdulillah kami berhasil menyelesaikan tantangan terberat selama 3 hari 2 malam. Kami memutuskan duduk dan menikmati segelas kopi sambil menunggu salah satu temanku yang tertinggal jauh dibelakang.

Jalur trekking

Jalur trekking

Kami menikmati malam terakhir di Kathmandu sambil menghabiskan waktu di sebuah cafe . Jam 20.00 kami berangkat menuju bandara diantar sopir yang berbahasa Inggris dengan gaya Amerika tapi beraksen India yang terdengar lucu. Pesawat akan take off pada jam 22.30 waktu setempat.

“Terimakasih Nepal, terimakasih Himalaya”

Apakah aku akan kembali lagi satu saat nanti?

 Entahlah… biarkan saja waktu yang akan menjawabnya.


Ucapan terimakasih

  • Saf Razali ; teman seperjalanan yang selalu menghangatkan suasana dengan humor dan celetukan khasnya.
  • Fajar Ginting ; teman dan leader dalam perjalanan ini yang  senang ngobrol dengan siapapun yang ditemuinya.
  • Mollyta ; istriku yang selalu sabar mendengarkan kisah perjalananku dan menjadi editor tulisanku.
  • Ramesh ; Guide  selama trekking 3 hari yang selalu memberikan perhatian dan semangat kepada kami.  Aku berdoa semoga rencana untuk mendirikan guest house di Gandruk cepat terealisasi
  • Shahruz ; Porter baik hati, selalu menanyakan keadaan dan kondisi kami

(klik pada setiap photo untuk melihat keterangan gambar)


25 April 2015, tepat 6 hari setelah  aku meninggalkan negeri ini, aku mendapat berita yang sangat mengejutkan.  Nepal dilanda gempa 7,9 skala richter.  Sudah 2.000  korban jiwa dan mungkin bertambah. Tak terhitung kerugian harta benda, tempat-tempat yang kami kunjungi mungkin sudah hancur kini.  Tapi aku percaya kalian adalah orang-orang yang tabah dan cepat bangkit dari derita.  Aku berdoa semoga semua teman dan orang-orang yang kutemui disana baik-baik saja.


Gear yang dipergunakan selama perjalanan :

  • Kamera Fujifilm XT1 (black)
  • Lensa kit fuji XF18-55 mm
  • Lensa Voigtlander 21 mm f4 (manual)
  • Lensa SMC Pentax 50 mm f 1.4 (manual)
  • Gopro Hero 4 Silver