Tags

, , , , ,


Catatan perjalanan 29 dec 2014 s.d 7 Jan 2015

“Seandainya saja seluruh dunia ini adalah sebuah negara, maka yang layak menjadi ibukotanya adalah Konstantinopel” (Napoleon Bonaparte)

Menjejakkan  kaki di bandara Ataturk setelah melewati penerbangan 11 jam yang melelahkan.  Hembusan angin seolah menampar wajahku yang tak terbiasa dengan suhu sedingin ini. Perjalanan kali ini memang berbeda “Istanbul di Musim dingin”

“Selamat datang di Istanbul, kota para raja”

Kota paling menarik di dunia yang sudah dikunjungi pelancong sejak 2.000 tahun yang lalu yang terpesona akan keajaiban, misteri dan keindahan kota dua benua (Asia-Eropa), Istanbul memiliki sejarah panjang peradaban umat  manusia, kota yang pernah menjadi ibukota kekaisaran besar pada masa itu (Romawi, Latin dan Ottoman) dan kota yang menjadi saksi bisu keagungan dan peperangan besar yang pernah terjadi .

Tengok apa yang di tulis oleh “Niceta Choniates” sewaktu pasukan latin menaklukkan Istanbul

“Mereka menghancurkan altar tinggi, karya seni yang dikagumi seluruh dunia, dan membagi barang rampasan diantara mereka . Mereka membawa kuda dan keledai kedalam gereja, untuk memanggul benda-benda suci serta ornamen perak dan emas yang mereka cungkil dari singgasana dan mimbar.  Seorang pelacur didudukkan di singgasana sang patriak, melontarkan penghinaan kepada Yesus Kristus, dan dia menyanyikan lagu-lagu tak senonoh dan umpatan di tempat suci dan tak berbelas kasihan kepada perawan mulia, perawan tak bersalah bahkan perawan yang disucikan untuk Tuhan.  Di jalanan rumah dan gereja hanya terdengar jeritan dan tangisan.  Disana sini terlihat perkelahian dan pertengkaran atas barang rampasan, tampak tahanan diseret dan dimana-mana terlihat orang mati ditengah-tengah orang yang diperkosa dan terluka’

Dan kisah kota pada saat ditaklukkan oleh pasukan Ottoman. Kritovoulus memberikan catatan

“Setelah semuanya, Sultan masuk ke kota dan melihat-lihat ukurannya yang sangat besar, situasinya, kemegahannya dan kecantikannya.  Populasinya yang padat, kecantikan dan mahalnya gereja-gereja dan bangunan publiknya.  Saat melihat sekian banyak yang dibunuh dan reruntuhan kota itu, dirinya dipenuhi belas kasihan dan sangat menyesali kehancuran  dan perampokan itu.  Air mata berlinang saat dia mengerang dalam-dalam dan bersungguh-sungguh.  Sungguh kota yang begitu menakjubkan, kota yang kita serahkan untuk dirampok dan dihancurkan ini “

Begitulah Istanbul, kota cantik yang berkali-kali dihancurkan namun selalu kembali berbenah tanpa pernah kehilangan kemegahannya. Hal yang membuatku belajar bahwa kegagalan-kegalan dalam  hidup tidak perlu membuat  “terpuruk” tapi jutru menjadi cambuk untuk bangkit dan meraih hasil terbaik.

Menyusuri distrik Sultan Ahmet ditengah hujan salju menjadi aktifitas  yang paling ku tunggu.  Hembusan angin dan salju sedikit mengganggu pergerakanku. Hanya  semangat dan rasa penasaranku seolah mengalahkan itu semua.  Bizantium, Konstantinopel, Istanbul adalah tiga nama untuk tempat yang sama.  tengok peninggalan mereka seperti Hagia Sophia, Masjid Sultan Ahmet (blue mosque) dan Istana topkapi (Topkapi Sarayi) seolah meghipnotisku dengan kemegahan nya

2015_02211304.jpg

Hippodrome Istanbul

Saat aku berdiri di tengah-tengah Hippodrome (dulunya bekas arena pacuan kuda) aku memandang Masjid Sultan Ahmet (Sultan Ahmet Camii) atau yang lebih terkenal dengan sebutan “Blue Mosque”.  (nama terakhir adalah pemberian turis yang mengunjungi salah satu ikon di Istanbul dan justru lebih terkenal dibanding nama aslinya)  dibangun tahun 1609-1616 memiliki enam menara, konon kabarnya hal ini terjadi  karena kesalahan komunikasi antara arsitek dan sang Sultan yang justru menjadi keunikan tersendiri bagi bangunan masjid.  Inilah bangunan yang dibangun untuk menandingi Hagia Sophia yang didirikan pada masa kekaisaran Romawi dan dan menjadi ikon kota Konstatinopel sebelumnya.  Bangunan ini juga sebagai pembuktian bahwa dinasti Ottoman/ Utsmaniyah tidak hanya  menaklukkan tapi juga membangun.

2015_02211315.jpg

Blue Mosque dibalik pohon meranggas dan salju yang mengguyur deras

Aku memasuki bangunan masjid yang didominasi hiasan  warna biru.  Langit-langit, kaligrafi ayat ayat suci Al quran, alangkah indahnya. Sayang karena waktu yang sempit, turis yang menghimpit serta dingin yang menggigit membuat aku tak bisa benar-benar menghayati keindahan tempat ini.

Blue mosque, memiliki 250 jendela dengan dinding yang dibuat dari blok batu dan besi yang direkatkan dengan timah

Blue mosque, memiliki 250 jendela dengan dinding yang dibuat dari blok batu dan besi yang direkatkan dengan timah

Bagian dalam Masjid memiliki ukuran panjang 51 meter dan lebar 53 meter dinaungi sebuah kubah dengan garis tengah sepanjang 23, 5 meter

Bagian dalam Masjid memiliki ukuran panjang 51 meter dan lebar 53 meter dinaungi sebuah kubah dengan garis tengah sepanjang 23, 5 meter

2015_02211241.jpg

Aku dan Molly dengan latar Blue Mosque

 

“Kebijaksanaan suci” adalah arti harfiah dari Hagia Sophia merupakan symbol kejayaan Istanbul di jaman kekaisaran Bizantium/Romawi Timur, bangunan indah yang pada awalnya merupakan sebuah “basilica” bagi penganut Kristen ortodoks Yunani, pernah beralih fungsi menjadi gereja Katolik Roma pada saat pendudukan bangsa Latin, dan pada saat penaklukan Istanbul oleh Sultan Muhammad II beliau turun dari kudanya dan bersujud syukur dan memerintahkan untuk mengubah fungsi bangunan tersebut menjadi Masjid, sebelum akhirnya pemerintah Turki modern menetapkannya sebagai museum.

Digunakan sebagai gereja selama 916 tahun sejak dibangun tahun 537 dan beralih fungsi sebagai masjid selama 481 tahun

Digunakan sebagai gereja selama 916 tahun sejak dibangun tahun 537 dan beralih fungsi sebagai masjid selama 481 tahun

Tak banyak perobahan bangunan ini dari sejak awal berdiri nya, kecuali penambahan menara sebagai simbol Masjid serta mengganti lambang salib di puncak bangunan dengan  bulan sabit. Interior bangunan  juga tak banyak berobah, hanya terdapat tambahan mimbar khotbah dan kaligrafi dibagian atas bangunan yang bertuliskan Allah, Muhammad dan khulafaurrasyidin serta kaligrafi di langit langit bangunan, sedangkan simbol Kristen seperti Bunda Maria dan Jesus di tutup dengan cat pada waktu itu. Namun dengan perobahan fungsi, lapisan cat dibuka kembali sehingga terdapat pemandangan unik dimana lukisan bayi Yesus di pangkuan bunda maria di apit kaligrafi Allah dan Muhammad. Sekilas seperti sebuah simbol toleransi antara dua agama besar di dunia, tapi entah yang terjadi sebenarnya pada saat itu, Aku rasa akupun tidak berhak menghakimi.  Jadi aku pun tak berpikir untuk mencari jawaban .

Dirancang oleh para ilmuwan Yunani yaitu Isidorus seorang Fisikawan dan Anthemius yang seorang ahli Matematika

Dirancang oleh para ilmuwan Yunani yaitu Isidorus seorang Fisikawan dan Anthemius yang seorang ahli Matematika

2015_02211234.jpg

Aku dengan latar Hagia Sophia

Little Hagia Sophia”, sebuah Masjid yang tidak terlalu besar berada distrik Sultan Ahmet merupakan replika dari Hagia Sophia itu sendiri. Aku menemukan tempat ini secara tidak sengaja, sewaktu aku berjalan sendirian menyusuri sudut-sudut kota

Little Hagia Sophia #1

little Hagia Sophia

Topkapi Palace, komplek Istana tempat dinasti Utsmaniyah/Ottoman tinggal dan menjalankan roda pemerintahan, terletak dekat selat bosphourus yang memisahkan Eropa dan Asia dan dikelilingi tembok tinggi. Kompleks Istana yang sekarang berfungsi sebagai museum menyimpan banyak benda benda bersejarah, baik itu peninggalan dari dinasti utsmaniyah/ottoman  seperti mahkota, batu mulia, lukisan kaligrafi bergaya kuffic maupun benda benda peninggalan Islam seperti Jubah, bekas telapak kaki, helai rambut, dan pedang Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat beliau. Disini juga kita dapat melihat tongkat nabi Musa AS dan pedang Nabi Daud AS. Konon kabarnya benda-benda tersebut dibawa dari tanah Arab semasa pemerintahan Utsmaniyah/Ottoman. Ditempat ini juga kita dapat melihat kunci Ka’bah logam yang membingkai hajarul Aswat serta banyak benda lain yang sungguh tak ternilai harganya.  Hanya sangat disayangkan bahwa pengunjung tidak di ijinkan membuat dokumentasi di dalam ruangan museum dan hanya boleh memotret bagian luar bangunan saja.  Apapun alasan dari aturan ini aku setuju saja, selain karena aku tidak punya cara untuk merobahnya ku pikir pastilah tujuan nya adalah untuk kebaikan.

2015_02211191.jpg

Top Kapi Palace

2015_02211184.jpg

Salah satu bangunan dari sekian banyak bangunan di komplek Istana Top Kapi

Bangunan harem menarik perhatian ku,  konon kabarnya harem ditinggali para selir Sultan, namun keterangan yang aku dapat sediki berbeda dengan apa yang aku ketahui sebelumnya. Harem itu aslinya adalah semacam pusat pendidikan dimana para penghuninya diajari macam macam keterampilan. Dan apakah para penghuni harem juga “melayani “ sultan ? entahlah.

2015_02211161.jpg

Tembok Kota yang melindungi Istanbul selama berabad-abad

Akibat jumlah menara yang sama dengan Masjidil Haram di Makkah pada saat itu, Sultan Ahmed I mendapat kritikan tajam sehingga akhirnya beliau menyumbangkan biaya pembuatan menara ke tujuh untuk Masjidil Haram.

2015_02211244

Jalan di Istanbul

Semua yang aku ceritakan di atas adalah Istanbul Eropa sedangkan Istanbul dibagian asia sekarang menjadi daerah pemukiman,  Istanbul Eropa menjadi pusat bisnis dan perkantoran, hal ini yang menyebabkan harga properti di Istanbul Asia lebih mahal dari Istanbul Eropa, namun sebaliknya harga sewa properti di Istanbul eropa jauh lebih mahal daripada Asia.

Penduduk Istanbul sendiri memiliki profil yang sedikit berbeda dari orang Eropa pada umumnya, masih terlihat wajah Asia terutama Timur tengah, meski demikian orang Turki sendiri tidak mau di sebut bagian orang Arab, menurut mereka nenek moyang mereka berasal dari keturunan suku berkuda dari Asia Tengah.  Jenghis Khan adalah leluhur mereka yang tidak pernah kalah berperang.  Walaupun sejarah mencatat pada perang dunia 1 Turki (Ottoman) termasuk pihak yang kalah dan harus membagi-bagi wilayahnya. Namun Gokan, pemuda berusia 35 tahun berprofesi sebagai guide dengan semangat menerangkan bahwa pasukan Turki tidak pernah kalah dalam pertempuran, hanya saja salah dalam memilih sekutu. Awalnya dengan bergabung ke blok Jerman yang pada saat itu merupakan negara adidaya mereka berharap akan dengan mudah memenangkan peperangan itu, hanya saja kenyataan berkata lain.

Begitulah Istanbul,  memanjakan mata dan pikiranku.  Seperti saat aku  menyempatkan diri mengunjungi dan berkeliling di pasar tua “Grand Bazar” atau berjalan di pusat perbelanjaan “Taksim Square” serta berkeliling di selat Bosphorus melihat Istanbul dari sudut berbeda rasanya cukup menghilangkan dahagaku untuk melihat tempat-tempat baru.