Tags

, , , , , ,


Jejak sejarah Kesultanan Melayu Deli

Bunga tanjung kembang semalam
Pohon tinggi tidak berduri
Gelombang besar di laut dalam
Karena tuan, saya kemari

Negeri Palembang, zaman silamnya
Damang lebar daun, nama rajanya
Iskandar Zulkarnain, juga moyangnya
Asal Melayu, dialah tuannya
(kutipan pantun)

MASJID RAYA AL-OSMANI — Sampai “jua” aku ke niat awal Ramadhan, berkunjung ke Masjid lama di kota Medan. Aku menggunakan kata “lama” karena Masjid yang aku kunjungi ini memang sudah berdiri sejak lama, aku tidak mengunakan kata “bersejarah” karena kupikir semua benda memiliki sejarahnya masing-masing. Walaupun niat awalnya aku akan berkunjung ke beberapa masjid lama, tapi apalah daya, karena kesibukan (alasan yang selalu ku buat menutupi kemalasan ku) aku hanya sempat berkunjung ke masjid ini saja. “Jadilah” batin ku.

tampak depan terlihat ciri khas bangunan Masjid Andalusia, Arab dan India

tampak depan Masjid Raya Al-Osmani, terlihat ciri arsitektur bangunan Masjid Arab, India dan Andalusia

Alkisah Tuanku Panglima Muhammad Fadli (Raja Deli ke-3) memecah daerah kekuasaannya menjadi empat bagian, untuk ke-4 orang putranya. Oleh Tuanku Panglima Pasutan memindahkan pusat kerajaan melayu dari Padang Datar (Medan) ke Kampung Alai (Labuhan Deli) dan membangun istana tepat di depan masjid ini. Hanya sayang bangunan istana tersebut tak tampak lagi bekasnya. Kemungkinan dikarenakan karena struktur bangunan istana yang terbuat dari kayu, menyebabkan bangunan tersebut tak cukup kokoh “didera” zaman.

Terletak di Jl. Yos Sudarso km 17.5, kelurahan Pekan Labuhan sesungguhnya letak masjid ini cukup dekat dari pusat kota Medan. Lokasinya persis di pinggir jalan Medan-Belawan, membuat siapapun tak akan kesulitan menemukan tempat ini. Hanya saja dengan kondisi lalu-lintas yang selalu padat akan membuat kita merasa beruntung apabila dalam waktu 60 menit bisa mencapai lokasi. Konon inilah masjid tertua di Medan. Didirikan pada tahun 1854 oleh Sultan Deli ke-7, Sultan Osman Perkasa Alam, masjid yang awalnya berdinding papan ini telah mengalami beberapa kali perbaikan, sehingga menjadi bangunan permanen pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Perkasa Alam (Sultan ke-8). Masjid ini diberi nama Masjid Raya Al-Osmani sesuai dengan nama pendirinya.  Namun seringkali orang lebih mengenalnya dengan nama Masjid Raya Medan Labuhan, Karena lokasi berdirinya.

Ambil gendang di kampung jenis
Bunga melati diatas jendela
Makin dipandang semakin manis
Sampai hati menjadi gila
(Kutipan pantun)

Kuning warna yang mendominasi, warna elok yang menjadi symbol kebesaran puak melayu, dikombinasikan dengan warna hijau sebagai symbol Islam dibeberapa bagian. Namun aku tak menemukan minaret (menara azan) di masjid ini. Selain warna,  Masjid ini tak memiliki ciri melayu layaknya sebuah bangunan peninggalan kesultanan melayu Deli. Arsitektur bangunan masjid justru di dominasi ciri Arab, India bahkan Andaluisa. Masing-masing ciri ini terlihat dari bentuk pilar berbentuk hypostyle mirip masjid di Cordoba, kubah utama mengadopsi bentuk kubah dari masjid di Timur Tengah dan kubah kecil di tiang utama berbentuk “bawang” ciri yang terdapat di India dan Pakistan. Hal yang bisa dimaklumi, karena kabarnya arsitek yang membangun didatangkan dari luar Nusantara. Selain itu banyaknya campuran aliran dalam arsitektur bangunan, mencirikan puak Melayu itu sendiri, yang mudah beradaptasi dengan berbagai pemikiran dan kemajuan zaman.

Dari jauh Masjid ini nampak menonjol dibandingkan dengan bangunan disekitarnya.  Berdiri kokoh dengan tembok tebal dan warna yang mencolok. Terdapat beduk dan kentongan di kedua sisi. Seperti umumnya Masjid, maka kedua alat ini dibunyikan pada waktu Sholat tiba, namun biasanya hanya diwakili oleh satu alat saja. Jendela menggunakan kaca patri yang didatangkan dari luar negeri, kemungkinan dari China atau Eropa. Corak kaca ini sangat menarik perhatianku, sayang dibeberapa bagian telah rusak atau pecah dan diganti dengan kaca biasa. Terdapat beberapa pintu untuk masuk ke bagian utama Masjid, uniknya sebagian pintu mengunakan metode dorong/Tarik, namun beberapa pintu menggunakan metode geser untuk membuka dan menutupnya

Aku berwudhu di sebuah bangunan di belakang Masjid, usai Sholat aku memperhatikan bagian interior, dinding dihias dengan kaligrafi dari ayat suci Al-quran. Bagian depan masjid yang menghadap qiblat terdapat mihrab (tempat imam memimpin sholat) dan mimbar tempat khatib berkhutbah, terbuat dari kayu berukir tumbuhan dengan warna emas. Langit-langit masjid dipenuhi hiasan dan dibagian belakang masjid terdapat “panggung” kecil yang biasanya digunakan Mu’azzin untuk bertakbir.

Aku duduk bersila di tengah Masjid, memandang sekelilingku, ini symbol kebesaran kesultanan Melayu dimasa lampau sekaligus kebesaran agama Islam itu sendiri. Semoga tak lekang oleh waktu.

Pokok saga ditepi halaman
Lembu tidur diatas jerami
Biar masa berganti zaman
Takkan melayu hilang dibumi
(kutipan pantun)

Medan, 8  Juli 2015