Tags

, , , ,


Seperti biasa aku dan Molly selalu merencanakan liburan berdua setiap tahun, kali ini kami sepakat untuk berkunjung ke negara yang pernah dijuluki sebagai negara “tirai bambu” sebagai simbol tertutupnya negara ini dari dunia luar. Awalnya kami merencanakan berangkat di bulan September, dengan rute Medan-Kuala Lumpur-Bejing dan kembali dengan rute Shanghai-Kuala Lumpur Medan. Tiket Air Asia sudah ditangan, namun masalah mulai muncul pada saat kami mencoba mem booking hotel. Rata-rata hotel yang sesuai budget kami sudah penuh karena kebetulan di tanggal tersebut adalah national day di China. Molly mulai stress, karena bisa-bisa kami over cost. Aku berusaha untuk lebih tenang, dan mengusulkan untuk langsung datang ke kantor Air Asia.

Informasi yang kami dapatkan bahwa tiket bisa dirobah dengan beberapa kondisi. Kami harus membayar selisih harga tiket ditambah penalti yang kalau aku hitung-hitung lebih mahal dibandingkan dengan apabila kami membeli tiket baru (kami membeli tiket pada saat promosi), atau terjadi delay pesawat lebih dari 45 menit, tiket boleh dibatalkan. Uang pembelian akan dimasukkan ke rekening penampungan untuk selanjutnya dapat dibelikan tiket lagi untuk tujuan manapun.

Kami pasrah, aku bahkan sudah berpikir untuk membeli tiket baru saja, karena  membeli tiket baru bahkan lebih murah daripada harus menginap di hotel bintang 5. Tiba-tiba Molly bilang bahwa dia pernah mendapatkan sms dari Air Asia, waktu kami cek ulang ternyata benar bahwa keberangkatan kami sesuai tiket dibulan September mengalami penundaan 50 menit karena alasan teknis. Alhamdulillah, kami dinaungi keberuntungan. Setelah mengkonfirmasi dengan petugas counter, saat itu juga kami membatalkan tiket tersebut dan  kamipun pulang dengan hati lega.

Sewaktu booking tiket yang kedua kali, aku berdiskusi dengan Molly untuk mencoba kota lain selain Shanghai. Alasanku waktu itu kedua  kota yang kami tuju sama-sama megapolitan. Kenapa kita tidak coba kota lain, entah apapun itu. Aku ingin merasakan hal yang berbeda, tak melulu merasakan kehidupan di kota besar. Molly setuju dan mulai mencari alternatif rute penerbangan ke kota lain di China yang langsung direct ke Kuala Lumpur maka muncullah nama Xi’an.

Bulan berganti, tanggal keberangkatan semakin dekat. Molly mulai menyusun rute, informasi transportasi dan segala hal yang terkait dengan kedua kota di China tersebut, sementara aku sendiri kembali disibukkan dengan pekerjaan ku di kantor.

Gundah ke Kuala Lumpur
Tanggal 11 October 2015 malam kami berkunjung ke rumah papa-mama (mertua ku) selain berpamitan kami juga menitipkan kenderaan dan kucing-kucing kesayangan Molly untuk 10 hari kedepan. Seminggu sebelumnya kami juga berpamitan dengan emak dan abah. Kami sempat makan malam di rumah papa, Mama membekali kami dengan rendang dan teri kacang. Membawa bekal makanan baru pertama kali ini kami lakukan karena kekhawatiran Molly tentang kehalalan makanan di China. Awalnya aku keberatan kalau mama yang harus menyiapkan, aku lebih suka dibeli saja (ada beberapa tempat di Medan yang menjual dua panganan ini untuk dibawa traveling atau oleh-oleh). Alasannya aku tak ingin merepotkan mama, hanya saja mama terus mendesak sampai akhirnya aku luluh juga. Kami pun sempat berbincang dengan papa tentang negara China. Jelas dalam ingatanku ucapan papa bahwa beliau sudah mengunjungi banyak tempat di Asia, Eropa dan Amerika tapi belum pernah ke China. kira-kira pukul 22.00 WIB kami meninggalkan rumah. Aku sempat mendengar mama  mengucapkan kepada Molly sesuatu tentang sutra China, tapi aku tak jelas keseluruhan kalimatnya. Hanya itu yang ku ingat tentang mama sebelum keberangkatan, sampai akhirnya Molly bercerita bahwa ada beberapa nasehat yang disampaikan untuk kami berdua.

Jam 08.00  pagi keesokan harinya dengan menggunakan taksi kami berangkat menuju Bandara Kuala namu. Awalnya tujuan kami adalah Railink Station, selanjutnya menggunakan kereta ke Bandara. Namun supir Taksi yang kami tumpangi meyakinkan bahwa biaya yang di keluarkan sama saja. Molly minta pendapatku, aku pikir bang supir benar juga, dari pada repot harus menyeret koper, lebih baik kami langsung ke Bandara dengan taksi. Toh jam keberangkatan pesawat masih lama, sehingga tak perlu terlalu khawatir dengan kemacetan lalu lintas yang mungkin terjadi.

Aku dan Molly menikmati kopi di bandara Kuala Namu Medan sebelum memulai perjalanan (Sony Experia Z 3+ front camera, mode auto)

Perlahan pesawat lepas landas meninggalkan bandara. Kabut asap yang sudah berbulan-bulan menyelimuti kotaku terlihat jelas dari udara. Syukur bahwa asap tak mengganggu penerbangan. Awalnya kondisi ini sempat menjadi ke khawatiran kami, mengingat informasi yang kami dapatkan bahwa banyak penerbangan yang ditunda bahkan dibatalkan. Semuanya normal, tak ada hal-hal yang mengganggu selama penerbangan singkat kami menuju Kuala Lumpur. Hanya satu kegundahanku waktu itu. “ Berita buruk yang aku dapati setelah perjalanan ini ?” Pikiran negatif itu bukan tanpa sebab, Bulan April sebelumnya aku melakukan perjalan ke Nepal dan seminggu setelah nya terjadi bencana Gempa yang cukup mengerikan. Di Tarik kebelakang, bom bunuh diri di Turky, bencana Merapi dan tragedy bom Bali 2 menjadi bagian dari perjalananku sebelumnya.

Sesuai jadwal pesawat mendarat mulus di KLIA 2. Kami memutuskan untuk tidak keluar terminal dan langsung menuju ruang tunggu keberangkatan pesawat ke Beijing. Masih ada sisa waktu kurang lebih 4 jam sebelum pesawat berangkat. Kami menghabiskan waktu dengan makan siang dan berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu.

Menunggu di terminal keberangkatan bandara KLIA 2 Kuala Lumpur Malaysia (Sony Experia Z 3+ front camera, mode auto)

Beijing Kami Datang
Tepat jam 19.00 waktu Kuala Lumpur pesawat take off. Disebelahku duduk seorang pria paruh baya yang dengan ramah menyapa dalam bahasa mandarin. Dengan mengucapkan maaf aku sampaikan bahwa aku tak mengerti. Dia mengalihkan perhatiannya ke penumpang lain dan mulai bercakap-cakap dengan rekan senegaranya. Penumpang di dominasi oleh orang dari negeri China (ku tangkap dari profil dan bahasanya). Hanya ada beberapa orang bule dan melayu termasuk kami.

Tak ada yang aneh dalam penerbangan ini, tapi beberapa penumpang yang lalu-lalang dan ternyata mengganggu Molly, dia mengeluhkan hal itu, sementara aku hanya diam karena aku sudah pernah merasakan penerbangan yang lebih riuh pada saat perjalanan ke Kathmandu beberapa waktu yang lalu. Aku mencoba tidur dan pada saat terbangun aku mengambil catatan dan membuat coretan-coretan . Kulihat disebelahku Molly dengan mata terpejam, hanya saja aku tak tahu apakah dia memang benar-benar tidur atau hanya sekedar memejamkan mata saja. Kuala Lumpur –Beijing ditempuh dalam waktu 6 jam, ku lihat jam tangan ku sudah menunjukkan bahwa kami 5 jam di udara. Satu jam lagi kami akan mendarat batinku.

IMGP0240

Catatan yang membantuku untuk mengingat detail perjalanan (Pentax K-30, SMC Pentax 50 mm f 1.7/ISO 3200, f 2, exposure time 1/60 sec)

Seketika kekhawatiran muncul dipikiran ku. Bagaimana kami bisa bertahan di China dengan hanya berbekal informasi dari internet. Bagaimana dengan cerita seram tentang turis yang tertipu disana, apakah kami akan juga mengalaminya ? Hanya saja hal ini tak ku bicarakan dengan Molly karena khawatir dia akan stress dan malah tambah bukin runyam. Sudahlah jalani dan  serahkan saja pada Tuhan, aku berdialog dengan diriku sendiri.

Tepat jam 01.00 waktu setempat pesawat mendarat di bandara Beijing Capital Internasional airport (BCIA) , salah satu dari dua bandara yang ada di kota Beijing dan sepertinya BCIA memang di khususkan untuk penerbangan low cost. Setelah melewati proses imigrasi yang relatif mulus kami memutuskan untuk menunggu pagi di terminal kedatangan bandara. Sepintas aku melihat seorang pesohor yang cukup terkenal dari Indonesia tertahan di imigrasi. Entah apa yang ditanyakan sampai pesohor itu harus menunjukkan tiket pulang. Beberapa waktu kemudian akhirnya dia melangkah meninggalkan petugas itu.

Setelah melewati proses imigrasi (Samsung galaxy S6, mode auto)

Perjalanan ke pusat kota Beijing baru akan kami lakukan di pagi hari. Ku lihat bangku-bangku telah penuh dengan orang yang juga berpikiran sama seperti kami. Kebanyakan memilih tidur dan menghabiskan tempat. Akhirnya kami duduk di salah satu gerai kopi yang masih buka. Aku memesan segelas kopi pahit dan  muffin. Cukuplah buat mengganjal perut, namun penjaga gerai bilang bahwa mesin untuk memanaskan muffin rusak Kami tak punya pilihan, hanya gerai ini yang masih buka, kunikmati saja muffin dingin itu. Jam di tangan ku menunjukkan pukul 03.00 pagi. Masih ada beberapa jam sebelum kereta pertama berangkat. Aku sempat berjalan-jalan di luar terminal dan mengambil beberapa foto dengan kamera ponsel ku.

Terminal kedatangan BCIA (Sony Xperia Z3+, mode auto)

Terminal kedatangan BCIA (Sony Xperia Z3+, mode auto)

Wajah lelah (Sony Xperia Z3+, mode auto)

Wajah lelah (Sony Xperia Z3+, mode auto)

Pukul 07.20 , kereta berangkat meninggalkan bandara menuju stasiun subway, hanya 20 menit untuk mencapai stasiun berbanding dengan 2 jam perjalanan apabila menggunakan Taksi. Udara cerah pagi itu, langit nampak biru dengan sinar matahari menerobos dari jendela kereta. Kami duduk berhadapan, Wajah Molly tampak lelah, mungkin karena perjalanan dan kurang tidur. Tiba-tiba sebuah koper besar meluncur dari depanku, reflek aku menahan koper itu dengan kaki. Kiranya penumpang di depan kami tak rapih meletakkan kopernya sehingga menggelinding. Selebihnya hanya diam dan kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tiba di stasiun orang-orang makin ramai, waktu itu hari selasa, orang-orang kelihatannya sibuk menuju ketempat kerja. Sementara kami berdua dengan tampang lecek dan belum mandi berhimpitan dengan orang-orang di stasiun, mudah-mudahan gak ada yang protes, batin ku. Sebuah mesin untuk membeli tiket dihadapan kami sekarang. Tujuan kami ke stasiun Wangfujing tempat hotel kami berada. Kami sempat bengong, karena di layar hanya ada huruf kanji dalam bahasa mandarin. “Pasti ada bahasa Inggrisnya “ kata Molly. Pelan-pelan kami perhatikan dan benar saja, di sudut kanan bawah ada pilihan untuk mengubah bahasa. Untung saja waktu itu tak banyak orang membeli tiket lewat mesin itu, sehingga kami jadi lebih leluasa. (Belakangan aku tahu bahwa rata-rata penduduk Beijing sudah punya tiket terusan  yang bisa diisi ulang dan  tidak hanya bisa di gunakan untuk transportasi Subway tapi juga bisa digunakan untuk Bus). Harga tiket perorang 3 yuan, kami menyediakan uang 6 yuan  uang kertas dalam pecahan 1 yuan (1 yuan = Rp. 2.100 s/d Rp. 2.300, tergantung kurs). Mesin memuntahkan uang tersebut dan berulang sampai tiga kali. Entah apa yang salah sampai mesin ini tidak mau uang  kami. Diam sejenak sambil memperhatikan mesin oh… ternyata mesin ini hanya menerima pecahan 1 yuan berbentuk koin, sedangkan untuk uang kertas mesin  minimal 5 yuan. Oh alangkah bodohnya kami, tak memperhatikan instruksi.

Tersesat
Keluar dari pintu B1 subway, sinar matahari cukup hangat menyambut kami. Cukuplah untuk mengusir dingin musim gugur yang baru tiba. Setelah menengok kiri kanan kami memutuskan untuk mulai berjalan mencari hotel yang telah kami booking sebelumnya. Wangfujing sepertinya kawasan yang cukup elit di Beijing. Selain banyak terlihat hotel berbintang di daerah ini juga dipenuhi pusat perbelanjaan dan pasar tradisional yang menyajikan kuliner lokal dan toko cindera mata. Aku mulai bertanya kepada salah satu petugas berseragam (entah Polisi atau security aku tak bisa membedakan). Percobaan pertama gagal karena petugas tersebut hanya menggelengkan kepala. Entah karena tak tahu atau mungkin dia tak paham pertanyaanku. Kami mencoba bertanya kepada seorang Bapak yang kelihatannya pemilik salah satu kafe jalanan yang ada di daerah itu. Si Bapak baik sekali, dia bilang kamu tunggu disini saya akan cari informasi, ucapnya dengan bahasa Inggris yang fasih. Tak lama kami kembali berjalan dengan berbekal informasi dari nya. “ Kamu berjalan lurus, nanti 500 meter kedepan kamu belok ke kiri, kalau kamu kesulitan coba tanya lagi dan tunjukkan nama hotel kamu dengan huruf kanji ini” pesannya. Aku bersemangat, sebentar lagi akan tiba di hotel dan segera bisa beristirahat, pikir ku.

Peringatan ke 70 kemenangan China di perang dunia ke 2 (Sony Xperia Z3+, mode auto)

Peringatan ke 70 kemenangan China di perang dunia ke 2 (Sony Xperia Z3+, mode auto)

Tak lama keadaan berubah, kami masih tak menemukan jalan yang dimaksud. Aku mencoba bertanya lagi, tapi sering kali justru gelengan kepala yang ku dapat. Akhirnya aku masuk ke sebuah minimarket dan mencoba bertanya kepada seorang ibu yang berjaga disitu. Ibu yang baik ini mencoba memberikan penjelasan dalam bahasa Mandarin, bahkan perempuan itu mencoba membuatkan peta di kertas yang ku bawa, sayangnya peta yang buatku mirip huruf “L” dan itu pun tak banyak membantu. Satu jam sudah berlalu, hotel juga tak kunjung kami temukan. Sempat terpikir untuk mencoba menghubungi hotel lewat telefon. Tapi setelah ku perhatikan penunjuk jalan semuanya berbahasa mandarin. Aku pikir percuma saja, toh kalau ditanya kami sekarang ada di jalan manapun aku tak bisa menjelaskan. Semua cara kami lakukan, menggunakan google map pun tak membantu, karena nama hotel kami tak muncul di peta itu.  Raut wajah Molly mulai keruh, “ naik taksi” katanya. Aku tak setuju, bukan saja karena aku mempunyai keyakinan bahwa hotel itu sebenarnya dekat, juga dengan gaya komunikasi yang ada, aku justru khawatir  naik taksi  membuat kondisinya malah makin ruwet. Bisa saja kami di bawa ketempat yang justru lebih jauh dari ini, atau mungkin kami akan ditipu. “Molly duduk saja di kursi ini dan beristirahatlah, abang akan cari informasi” ucapku “maksimal 15 menit abang akan balik dan jangan kemana-mana” lanjutku. Molly mengangguk dan duduk di  kursi  pinggir jalan.

Bangunan di Wangfujing (Sony Xperia Z3+ mode : auto)

Bangunan di Wangfujing (Sony Xperia Z3+ mode : auto)

Aku mulai berjalan sendiri, semua orang yang memungkinkan aku tanya sekaligus menunjukkan secarik kertas nama hotel yang aku tuju. Mulai dari pedagang di pinggir jalan, kios majalah, semua menggelengkan kepala. Seorang pria berseragam (aku tak tau profesinya apa) bahkan mengusirku dengan raut wajah yang kurang bersahabat. Aku tak perduli, yang penting hotel harus dapat dan segera beristirahat. Iseng-iseng aku bertanya kepada petugas yang sedang membersihkan taman kota. Petugas ini memanggil temannya. Tak lama mereka berdiskusi dalam bahasa yang tak ku mengerti mereka bilang bahwa jalan tempat aku berdiri saat ini sudah benar dan nanti hotel itu ada di sebelah kiri jalan.

Dengan langkah cepat aku kembali ke tempat Molly beristirahat, ada perkembangan baik yang akan ku sampaikan ke Molly. Belum sempat aku menyampaikan informasi, Molly bilang bahwa dia ternyata bawa peta kertas kawasan ini. Peta yang didapatnya pada saat mencari informasi tentang Beijing tempo hari, hanya saja tadi Molly lupa katanya. Hmm… lupa ? ah sudahlah aku dengarkan saja penjelasannya.  Kita harus jalan balik menuju stasiun dan ikuti jalan  disebelah Beijing Hotel, demikian informasi yang di dapat dari peta itu. Sudahlah pikir ku, daripada mengikuti petunjuk dari petugas taman yang juga belum pasti, lebih baik mengikuti  peta walaupun kami harus berjalan balik lagi ke titik awal. (belakangan aku tahu ternyata petugas taman itu memberikan informasi yang akurat,  hotel Cititel yang kami tuju itu hanya  berjarak kurang dari 10 menit berjalan kaki dari tempat aku bertanya).

Masih sepi di pagi hari (Sony Xperia Z3+, mode: auto)

Masih sepi di pagi hari (Sony Xperia Z3+, mode: auto)

Suasana Beijing di sekitar Wangfujing Street (Sony Xperia Z3+, mode; auto)

Suasana Beijing di sekitar Wangfujing Street (Sony Xperia Z3+, mode; auto)

Kembali ke stasiun Wangfujing, kami menyebrang dan menyusuri jalan disebelah Beijing Hotel. Aku melihat kira-kira 5 orang petugas Polisi lalu lintas sedang duduk beristirahat. Aku datangi dan bertanya. Salah seorang petugas menunjuk jalan di sebelah kiriku, sementara petugas lain “cuek” dan sibuk dengan urusannya sendiri. Kembali kami berjalan dan sampai satu perempatan. Hmmm… kiri, kanan atau lurus ? ku lihat diseberang jalan terdapat kios kecil menjual makanan sejenis martabak yang membuat air liurku menetes. Aku ingat-ingat terakhir kali kami makan di Kuala Lumpur sehari sebelumnya, selebihnya hanya makan makanan ringan saja. Pantaslah aku lapar.

Menikmati malam di Wangfujing (Fujifilm XT1, lensa XF 14 mm f 2.8, ISO 2000, f 2.8, exposure time 1/45 sec, photo by Arman)

Menikmati malam di Wangfujing (Fujifilm XT1, lensa XF 14 mm f 2.8, ISO 2000, f 2.8, exposure time 1/45 sec, photo by Arman)

2015_10222015china0322

Pemilik warung menunjukkan arah, setelah mengucapkan terimakasih kami kembali berjalan, nampaknya hotel sudah semakin dekat, pada saat kami sampai di pinggir jalan raya yang cukup ramai ternyata si penjual martabak menyusul kami dengan menggunakan sepeda motor, dia bilang kamu menyebarang jalan dan ikuti jalan ke kiri. Aku mulai menyeberangi jalan raya, Molly masih tertinggal di belakang waktu tiba-tiba aku mendengar suara ban bergesekan dengan aspal. Sepeda motor mengerem keras sekali, aku menoleh ke belakang, Molly hampir tertabrak. Sejenak aku dilanda kepanikan, tapi syukurlah tak terjadi apa-apa. Mungkin karena Molly kelelahan atau mungkin karena kebiasaan orang Indonesia kalau menyeberang jalan selalu menoleh ke kanan, sementara lalu lintas di China terbalik dengan kondisi Indonesia. Aku memilih untuk tidak membahasnya. Tak lama kami sampai juga ke hotel yang kami tuju. Waktu tempuh yang seharusnya tak sampai 15 menit dari stasiun kami capai dalam waktu kurang lebih 1,5 jam.