Tags

, , ,


Magic 10
Kami memutuskan istirahat sejenak di kamar hotel, tak lama pintu diketuk. Seorang perempuan petugas hotel berwajah ramah dengan tersenyum memberikan dua pasang sandal karet. Sandal yang kelak akan menjadi cerita memalukan pada saat kami akan meninggalkan kota Beijing.

“Mol, sebaiknya kita batalkan saja rencana yang telah kita susun untuk hari ini. Kita sudah terlalu lelah dan ini masih hari pertama kita di Beijing. “Ada baiknya kita istirahat untuk memulihkan tenaga” ujarku.

Tapi Molly minta kami tetap keluar hotel untuk makan siang . Aku setuju saja karena secara fisikpun sebenarnya aku masih cukup kuat dan sebelum berangkat kami melahap mie instan yang kami bawa, untuk berjaga-jaga jika sampai kejadian tadi pagi terulang lagi.

Masjid Niujie yang terletak di Ox Street distrik Xuanwu adalah  masjid tertua di Beijing, dan pastilah banyak komunitas muslim disitu. Niujie sendiri berarti jalan sapi dalam bahasa setempat, mengacu bahwa di daerah tersebut banyak restoran muslim yang menjual daging sapi. Bermodalkan peta, kami keluar dari hotel menuju ke stasiun subway line 2. Berhenti di stasiun Changchun Jie, perjalanan kami lanjutkan dengan  bus no 10. Untuk memastikan bahwa kami sudah di halte bus yang tepat, aku bertanya kepada seorang bapak yang kebetulan sama-sama antri dengan cara menunjukkan tulisan kanji yang telah kami persiapkan sebelumnya. Dengan menggunakan bahasa isyarat dia mengajak kami menuju ke peta petunjuk rute di sebelah halte dan menunjukkan angka 10. Tak lama menunggu lalu bus pun datang, si bapak menoleh ke arah kami dan menunjuk bus.

“Kita di jalan yang benar Mol” ujarku bercanda.

Bus memang tidak terlalu penuh tapi kami memutuskan untuk berdiri supaya cepat mencapai pintu kalau nanti sudah sampai karena menurut informasi yang kami punya di pemberhentian ke-empat kami sudah sampai ke tujuan.  Petunjuk di dalam bus tidak seperti di subway yang sudah tersusun rapi, layar LED sign di depan Bus yang menunjukkan halte pemberhentian berikutnya hanya menyajikan aksara kanji. Satu-satunya petunjuk adalah papan  disetiap pemberhentian bus, itupun kami harus melongok keluar memperhatikan nama halte ditengah penumpang yang semakin padat.

Suasana halte bus (Sony Xperia Z3+)

Suasana halte bus (Sony Xperia Z3+)

Di dalam bus (Sony Xperia Z3+)

Di dalam bus (Sony Xperia Z3+)

10 menit berlalu dan kami tidak menemukan tanda-tanda halte yang kami tuju. Aku mengutarakan kekhawatiranku kepada Molly. Akhirnya kami putuskan untuk bertanya kepada kondektur bus dengan menunjukkan secarik kertas. Kondektur menjawab dalam bahasa Mandarin yang tak kumengerti, hanya isyaratnya aku menangkap bahwa kami harus turun di halte berikutnya kemudian menyebarang jalan. Cuma itu informasi yang aku tangkap.  Buru-buru kami turun dari bus dan mengikuti petunjuk kondektur. Diseberang jalan terdapat halte bus lainnya, tapi tak ada tanda-tanda ini adalah tempat yang kami tuju. Aku mulai bertanya lagi ke setiap orang aku jumpai. Perasaan was-wasku mulai muncul, karena tak seorangpun bisa membantu. “Lost in Beijing” batinku.

Bus kota (Sony Xperia Z3+)

Bus kota (Sony Xperia Z3+)

Molly mulai terserang penyakit panik, sementara aku  bingung musti tanya ke siapa lagi. Aku memutuskan mengajak Molly balik ke halte itu lagi saat kulihat seorang perempuan muda berdiri lalu aku bertanya kepadanya. Ini pasti mahasiswa dan bisa berbahasa Inggris, pikirku. Perkiraanku tepat, dia mengerti apa yang kumaksud, hanya saja dia kesulitan menjelaskannya. Perempuan itu setengah  berlari menuju papan petunjuk di halte, kiranya dia juga terburu-buru. Sambil tersenyum ramah kembali dia menunjuk angka 10. Aku berpikir cepat “angka 10” ohhh.. pasti bus yang kami naiki tadi sudah benar, hanya arahnya berlawanan. Aku ucapkan terimakasih dan sambil tersenyum perempuan itu menaiki bus yang baru tiba. Kesimpulanku kesalahan dimulai dari stasiun Changchun Jie, seharusnya kami menuju ke halte bus di sebelah selatan stasiun dan aku tak memanfaatkan kompas yang ada di jam tanganku, kesalahan yang akan kuperbaiki di hari-hari selanjutnya.

Hanya beberapa menit bus no 10 yang kami tunggu tiba. Kami buru-buru naik, di dalam bus kembali aku menunjukkan kertas “sakti” ku kepada kondektur. Perjalanan kami lewati sambil bercanda bersama Molly, menceritakan kejadian sebelumnya. Menurut informasi yang di peroleh Molly bahwa dekat halte bus yang kami tuju, ada supermarket muslim dan di lantai 2 ada restoran halal. Mata kami segera tertuju ke sebuah signboard supermarket berwarna hijau persis di sebelah halte.  Dengan perut keroncongan dan kaki pegal kami berjalan ke supermarket tersebut.

“Pak, dimana restoran halal ?” aku bertanya kepada kasir supermarket.

Dengan ketus kasir menjawab, “Disini supermarket dan gak ada restoran”.

“Oke kalau begitu dimana di sekitar sini ada restoran?” aku bertanya sambil mencoba bersabar. Kasir hanya menggelengkan kepala.

Makan Siang di Waktu Sore

Kami keluar dari supermarket dengan lemas dan cemas, sebentar lagi gelap dan tak  ada tanda-tanda makanan halal. Di seberang jalan aku melihat bangunan dengan signboard berbahasa mandarin, dilihat dari ciri-cirinya ini mungkin restoran. Kami putuskan menyeberang jalan dan menuju bangunan itu. Sepi sekali, tak ada tanda-tanda tamu yang datang dan makan di restoran itu. Kami naik ke lantai 2, mulai tampak tanda-tanda kehidupan. Kuperhatikan sekeliling meja-meja kosong dan dinding yang dihiasi aksesoris Motor Harley Davidson. Kebetulan pikir ku, terutama aku juga memakai kaos Harley pemberian teman ku yang kebetulan pencinta motor Amerika yang mahal itu. Mudah-mudahan dapat discount hahaha…. Dua orang pelayan mendekati kami menyodorkan selembar menu yang isinya huruf kanji. Tak ada gambar makanan bahkan tak ada angka. Bagaimana caranya memesan menu? Beberapa menit berikutnya kami mencoba berkomunikasi dan sama sekali gak nyambung. Kami benar-benar frustasi dan akhirnya memutuskan keluar dari restoran itu.

Kami kembali ke halte bus dan terdiam. Rasa lapar membuat kami lupa tujuan awal kami ke masjid Niujie.

Ox Street (Sony Xperia Z3+)

Ox Street (Sony Xperia Z3+)

“Molly tunggu disini ya… ini makanan ringan buat mengganjal perut dan cobalah mengistirahatkan kaki. Abang coba berkeliling mencari restoran” ujarku.

Molly hanya mengangguk, air matanya mulai berlinang. Dia kelelahan batinku. Setengah berlari aku telusuri jalan di sekitar tempat kami berdiri. Kurang dari 500 meter aku melihat restoran bertuliskan halal dan ramai pengunjung. Sambil senyum-senyum aku kembali ketempat Molly beristirahat dan mengajaknya masuk ke restoran itu.

Restoran muslim di OX street (Fujifilm XT1, lensa XF 14 mm f 2.8, ISO 1250, f5.6, exposure time 1/45 sec)

Restoran muslim di OX street (Fujifilm XT1, lensa XF 14 mm f 2.8, ISO 1250, f5.6, exposure time 1/45 sec)

Menu hari ini (Sony Xperia Z3+)

Menu hari ini (Sony Xperia Z3+)

Kembali memesan makanan menjadi momok buat kami, selalu saja tak ada huruf latin di setiap daftar menu yang disediakan. Hanya kali ini kami sedikit beruntung karena ada foto makanan di display. Terjadi perdebatan dengan pelayan restoran, sementara rekan disebelahnya senyum-senyum melihat kami. Ini orang dari kampung mana? Mungkin itu yang ada dalam pikirannya. Akhirnya kami cari cara yang paling sederhana dengan menunjuk foto. Entah apapun isi dan rasanya pokoknya makan pikirku. Kami menikmati makanan dalam porsi jumbo. Ada sedikit penyesalan, harusnya kami hanya pesan 1 porsi untuk berdua mengingat porsi semangkok mie bisa dinikmati 3 orang Indonesia. Selesai makan aku bilang ke Molly bahwa aku akan balik ke supermarket membeli korek api karena korek apiku tertinggal di hotel. Kembali ke supermarket, kasir jutek ternyata tak sendiri lagi. Di dekatnya tampak seorang pria yang perkiraanku adalah pemilik supermarket tersebut. Waktu aku tanya dimana letak korek api si kasir malah menunjuk ke arah pria itu dan dengan  tersenyum ramah dan bertanya

“Moslem?” ia bertanya.

“Yes sir, I’m moslem” aku menjawab. 

“Assalamu`alaikum, from Malaysia?” ia lanjut bertanya.

“Wa`alaikumsalam,  I`m from Indonesia” jawabku pendek.

Percakapan tak aku lanjutkan selain menanyakan dimana letak korek api. Waktu aku membayar di kasir jadilah aku mendapat discount, dari harga yang tertera 3 yuan aku cukup membayar 1 yuan saja. Terimakasih pak ucapku.

Berkunjung ke Masjid Niujie
Aku berjalan kembali ke restoran, di perjalanan aku bertemu dengan seorang laki-laki berpakaian kumal yang membuang ludah sembarangan. Gelandangan, pikirku. Tapi entah kenapa aku iseng bertanya dimana letak masjid. Tanpa menoleh laki-laki itu menunjuk ke satu arah sambil ngomel sesuatu yang tak kumengerti. Sudahlah pikirku, lagipula hanya iseng-iseng kok, gak perlu diambil hati. Sampai di depan restoran aku membakar sebatang rokok sambil memperhatikan sekeliling. Mataku tertumpu pada tembok tinggi di seberang jalan. Dibalik tembok aku melihat atap bangunan mirip vihara Budha. Di sebelah tembok terdapat signboard bertuliskan Masjid. Letaknya persis arah yang ditunjukkan laki-laki kumal itu sebelumnya. Buru-buru kubuang rokokku dan kembali ke restoran.

“Molly cepatan makannya, kita menemukan Masjidnya” ujarku.

Bangunan masjid Nuijie konon kabarnya arsitektur masjid ini menginspirasi masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya (Fujifilm XT1, lensa 14 mm f 2.8, ISO 2500, f7.1, exposure time exposure time 1/70 sec)

Bangunan masjid Nuijie konon kabarnya arsitektur masjid ini menginspirasi masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya (Fujifilm XT1, lensa 14 mm f 2.8, ISO 2500, f7.1, exposure time exposure time 1/70 sec)

“Assalamualaikum…” ucap seorang pria berpostur tinggi berkulit bersih. “

“Wa`alaikumsalam” jawabku.

“Moslem?” ia bertanya lagi.

“Yes, we`re moslem from Indonesia” aku menjawab.

Salah satu gerbang masuk ke masjid, Fujifilm XT1, lensa XF 14 mm f2.8 (ISO 2500, f 5.6, exposure time 1/34 sec)

Salah satu gerbang masuk ke masjid, Fujifilm XT1, lensa XF 14 mm f2.8 (ISO 2500, f 5.6, exposure time 1/34 sec)

Dengan ramah pria itu mempersilakan kami masuk ke dalam komplek Masjid. Segera kami lihat bangunan utama Masjid . Inilah salah satu Masjid tertua di Beijing sekaligus menandai masuknya Islam ke Beijing. Dibangun tahun 916, pernah dihancurkan pasukan Mongol dan dibangun kembali pada masa dinasti Ming dan diperluas pada masa dinasti Qing. Aku melihat sebuah bangunan hexagonal dengan tinggi sekitar 10 meter yang kiranya adalah menara pengamat bulan guna menentukan kalender Islam, disamping itu terdapat menara azan. Arsitektur masjid ini berbeda dengan bangunan Masjid yang pernah kulihat sebelumnya, perpaduan antara arsitektur Tiongkok dan Persia dan Arab dipadukan dengan hiasan kaligrafi ayat Al-Quran di dinding nya. Aku sholat ashar berjamaah di Masjid itu dan sesudahnya menyempatkan mengambil beberapa foto. Keluar dari bangunan utama Masjid kami sempatkan berkeliling komplek Masjid. Beberapa jamaah dengan peci putih khasnya berbincang di sekitar masjid. Mataku tertumpu pada sebuah benda berwarna putih dan sepertinya  jam matahari tapi aku tak yakin.

Fujifilm XT1, Lensa XF 14 mm f 2.8, ISO 2500, f 5 exposure time 1/4 sec)

Fujifilm XT1, Lensa XF 14 mm f 2.8, ISO 2500, f 5 exposure time 1/4 sec)

2015_10222015china0038

Rasanya tak puas berkeliling masjid Niujie, hanya saja hari sudah mulai gelap. Demi menghindari kejadian seperti waktu berangkat, kami putuskan keluar dari komplek masjid dan berjalan menuju halte. Bagaimanapun perjalanan hari ini sungguh melelahkan, dengan  bus no 10 kami kembali ke hotel untuk beristirahat.