Tags

, , ,


Tubuhku masih letih  sewaktu dibangunkan pagi-pagi sekali

“Kamu sepertinya lebih kejam dari Gokan Mol”

Aku bercanda mengacu ke pengalaman kami sebelumnya sewaktu pergi ke Turki dengan tour guide bernama Gokan yang terkenal disiplin dan galak. Molly tersenyum sambil terus saja mengguncang tubuhku.  Kami sempat berbincang sejenak sebelum aku memutuskan untuk mandi dan Molly menyiapkan sarapan.  Hari ini tak ada perjalanan jauh dan kami cukup percaya diri untuk melewatinya.

Dari stasiun subway kami berjalan kira-kira 200 meter kearah belakang, terlihat bangunan besar berwarna merah mencolok. Forbidden City atau kota terlarang.  Merujuk dari namanya pastilah pada masanya  tidak sembarangan orang di ijinkan masuk. Dulunya tempat ini adalah istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Dikenal sebagai “Museum Istana”. Lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 meter persegi, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan. Kota Terlarang, oleh UNESCO disebut merupakan koleksi terbesar struktur kayu kuno di dunia, dan terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987. https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Terlarang

2015_10222015china0091

Tiananmen tower, terletak di depan lapangan Tiananmen yang merupakan nol km kota Beijing dan menjadi salah satu gerbang masuk ke Kota terlarang (Fujifilm XT1, lensa FujiXF 14 mm f 2.8)

Pagi itu cukup cerah dengan sinar matahari yang hangat, di sekitar kami tampak banyak sekali pengunjung dan bagian besarnya adalah  turis lokal. Uniknya beberapa pengunjung membawa bendera (China) kecil dan melambai-lambaikannya. Pemandangan yang tak umum buatku.  Aku membayangkan orang Indonesia datang ke tempat wisata semisal “Istana Maimoon” dengan membawa bendera merah putih ? hampir tak mungkin terjadi.  Isengku muncul, aku menghampiri dua orang tua yang sedang berfoto dengan latar bangunan merah dan bendera di tangan. Aku ajak mereka berfoto. Awalnya mereka kaget, tapi tak berlangsung lama, kami berbincang sebentar dengan bahasa seadanya dan akhirnya berfoto bersama

Setelah melewati pemeriksaan yang cukup ketat, bahkan harus melewati alat metal detector,  kami bersama ratusan orang lainnya berbaris memasuki gerbang besar dengan foto Mao Tse Dong di dindingnya. Puluhan petugas security berdiri berjajar di pinggir jembatan mengarahkan orang-orang agar tak melenceng dari jalur.  Melewati gerbang kami sampai ke sebuah lapangan besar dikelilingi bangunan berwarna merah. Kami mulai bingung harus apa lagi ? Aku  memotret situasi sekeliling  sambil mencari informasi bagaimana caranya masuk kedalam salah satu bangunan yang ada disitu. Ku lihat antrian mengular, kirannya disitu tempat membeli tiket. Kamipun ikut antri dan ternyata walaupun antrian cukup panjang kami cukup cepat mencapai loket,  karena petugas di loket  cukup cekatan melayani pengunjung. Dengan tiket di tangan kami ikut antrian lain menuju gerbang masuk. Didepan kami rombongan grup tur juga ikut mengantri. Suasana cukup riuh dan pengunjung mulai berdesakan. Ketika kami sampai di depan petugas yang sejatinya akan merobek tiket kami, mengatakan  sesuatu sembari menunjuk loket tempat kami membeli tiket tadi. Apa yang salah ? batinku, atau jangan-jangan kami salah membeli tiket ?.  Ku perhatikan sekeliling, orang-orang juga memegang tiket yang sama dengan yang ku pegang.

Foto bersama pengunjung lokal (Sony Xperia Z3+)

Foto bersama pengunjung lokal (Sony Xperia Z3+)

Pengunjung melimpah ruah, padahal bukan hari libur (Fujifilm XT1, lensa Fuji XF 14 mm f 2.8)

Pengunjung melimpah ruah, padahal bukan hari libur (Fujifilm XT1, lensa Fuji XF 14 mm f 2.8)

Kami mundur dan kembali ke loket tadi, barulah ku sadari ternyata disebelah loket itu terdapat tempat penitipan tas dan barang-barang pengunjung. Oh rupanya ada aturan bahwa pengunjung tidak diijinkan masuk  dengan membawa tas. Kehebohan terjadi diantara kami, karena didalam tas kami disamping berisi bekal, juga gadget, uang termasuk passport. Aku tak yakin untuk menitipkan tas dengan benda-benda itu di dalamnya. Jadilah kami masuk dengan kantong penuh. Selesai melewati petugas pemeriksa tiket, kami masih harus melewati security check untuk kesekian kalinya. Sepintas terlihat olehku di sebelah pos, keranjang berisi korek gas. Tak menyangka pemeriksaan sedemikian ketatnya layaknya pemeriksaan di bandara. Aku tak bisa menghindar lagi, jadilah korek gasku menjadi penghuni keranjang itu.

Kami naik melewati tangga, di atas bangunan pengunjung berdesak-desakan. Dari teras bangunan aku melihat di seberang jalan lapangan tianamen. Lapangan yang merupakan nol km nya Beijing dan  menjadi sangat terkenal dengan peristiwa tahun 1989. Imajinasiku melayang, membayangkan belasan mahasiswa yang berjuang untuk demokrasi harus meregang nyawa dilindas tank baja. Tapi kupikir peristiwa itulah yang akhirnya menjadi titik balik negara ini menjadi negara modern seperti sekarang. Kami tak berlama-lama di bangunan berwarna merah itu, terlalu ramai orang dan tak nyaman sama sekali. Kamipun memutuskan turun dan beristirahat di lapangan tempat awal kami berdiri.

Salah satu bangunan di komplek forbidden city (Fujifilm XT1, lensa Fuji XF 14 mm f 2.8)

Salah satu bangunan di komplek forbidden city (Fujifilm XT1, lensa Fuji XF 14 mm f 2.8)

Profil wajah pengunjung ini lebih mirip Asia Tengah ketimbang China (Sony Xperia Z3+)

Profil wajah pengunjung ini lebih mirip Asia Tengah ketimbang China (Sony Xperia Z3+)

Aku mengajak Molly keluar dari komplek bangunan merah itu, persis di depan loket ke dua yang kami temui.  Aku berpikir bangunan di depan ku tak akan jauh berbeda dengan bangunan pertama yang kami masuki tadi. Tak pernah kubayangkan ternyata justru bangunan megah di depan ku itu adalah gerbang forbidden city atau kota terlarang dan kami justru memutuskan untuk jalan di luar tembok dan mengelilinginya. Sementara bangunan berwarna merah yang tadi kami masuki adalah Tianamen tower yang sebenarnya tertulis jelas di tiket masuk dan kami tak memperhatikannya. Hal yang kami ketahui justru setelah kami kembali ke kota kami setelah membandingkan foto perjalanan kami dengan foto yang beredar di internet.  Alangkah bodohnya kami dan jadilah kami ke Beijing tapi tak sempat masuk ke kota terlarang.

Pengunjung yang antusias (Fujifim XT1, lensa Fuji XF 14 mm f 2.8)

Pengunjung yang antusias (Fujifim XT1, lensa Fuji XF 14 mm f 2.8)

Mahalnya Jagung Rebus di Beijing
Kami menyusuri jalan di sebelah tembok tinggi kota terlarang. Disebelah kanan kami terdapat parit untuk melindungi kota.  Aku sendiri melihatnya lebih menyerupai  kanal atau bahkan sungai karena lebarnya. Perut mulai lapar, diseberang parit terdapat banyak restoran dan terlihat pengunjung sedang menikmati makan siang dari balik jendela, tapi kami tak mau ambil resiko tentang kehalalannya. Pengunjung lokal kebanyakan membawa bekal sendiri. Umumnya mereka membawa bekal buah dan roti dan menikmatinya di bangku-bangku taman. Aku melihat seorang perempuan menjual jagung rebus dan Molly memutuskan untuk membeli sekedar mengganjal perut. Setelah bernegosiasi dengan penjual,  satu jagung rebus seharga 5 yuan berpindah ketangan Molly. Mahal tapi aku tetap membayarnya. Hanya saja perasaanku mengatakan bahwa ada yang salah.  Molly menikmati  jagung rebus itu tak jauh dari penjual, aku motret suasana sekitar dengan mata yang sekali-sekali melirik ke penjual. Benar saja, tak lama aku melihat seseorang menawar jagung rebus, kelihatannya penduduk lokal dari bahasa yang digunakannya. Setelah berbicara beberapa saat aku melihat pembeli menyerahkan uang 5 yuan.  Penjual  jagung menerima uang dengan hati-hati, kiranya dia tau aku memperhatikannya, selanjutnya sipenjual menyerahkan 2 buah jagung. Hmmm benar, ternyata 5 yuan cukup untuk membeli 2 buah jagung. Aku bilang ke Molly bahwa kami di “scam” penjual  jagung rebus. Memang tak ada niat untuk protes, hanya penasaran berapa harga yang sebenarnya, dan kamipun  tertawa  setiap kali mengingat kejadian itu.

Salah satu bangunan di Forbidden City/Kota teralarang (Fujifim XT1, lensa XF 14 mm f 2.8)

Salah satu bangunan di Forbidden City/Kota teralarang (Fujifim XT1, lensa XF 14 mm f 2.8)

Melanjutkan perjalanan setelah cukup beristirahat, kami memutuskan untuk tidak naik subway setelah menemukan signboard arah ke Wangfujing. Disepanjang perjalanan penuh dengan toko souvenir yang memanjakan mata. Beberapa tukang becak khas Beijing berusaha menarik perhatian kami dengan menawarkan jasanya. Hanya saja dari beberapa artikel yang ku baca, sering kali penipuan terjadi gara-gara alat transportasi ini sehingga aku mengabaikan saja tawaran itu. Kami terus berjalan sampai tiba-tiba aku merasa aku mengenal jalan di depanku. Dekat sekali antara hotel tempat kami menginap dengan kota terlarang atau forbidden city, bahkan sebenarnya kami cukup hanya berjalan kaki menuju tempat itu.