Tags

, , , , , ,


Membongkar file foto di hard disk dan   Tana Toraja kembali membangkitkan memori tentang perjalanan ke sana beberapa tahun lalu dan  memaksaku untuk menunda tulisan ke China yang belum selesai.  

Pada saat menerima tugas mendadak dari kantor yang membuatku harus berangkat  Makassar, Sulawesi Selatan. Garuda Indonesia yang ku tumpangi menembus pekatnya malam dan  mendarat  mulus di Bandara Hasanuddin. Jam tanganku menunjukkan pukul 22.00, artinya  pukul 23.00 WITA.  Sudah cukup malam dan ini adalah pengalaman ku pertama kali menginjakkan kaki ke kota ini.  Aku tak terlalu khawatir karena pasti semua fasilitas sudah disiapkan untukku selama dua minggu di kota ini, hanya saja aku terpaksa mencari kenderaan sendiri menuju ketempat kost karena temanku yang rencananya menjemput, mendadak membatalkan janjinya karena satu keperluan.  Aku melewati pintu  terminal kedatangan,  beberapa sopir taksi datang mendekat menawarkan jasa dengan setengah memaksa, seperti gula yang dikerubungi semut.  Aku  tak terlalu kaget, selain  sudah memperoleh informasi tentang hal itu, keadaan seperti ini sudah jamak di bandara-bandara negeriku.  Aku menunjukkan secarik kertas kepada salah satu diantara mereka. Jalan Gunung latimojong  alamat yang aku tuju.  Salah seorang  dari mereka dengan yakin mengatakan bahwa dia tahu alamat itu.  Akupun memutuskan untuk memilih taksi nya, sementara sopir-sopir  lain satu persatu meninggalkan aku dengan raut wajah kecewa.

Sudah satu jam, tak ada tanda-tanda bahwa taksi yang kutumpangi sampai ke alamat yang dituju.  Aku melirik ke arah sopir,  mulai tak yakin  dan curiga  jangan-jangan cuma modus alias modal dusta?.  Aku bilang ke  sopir taksi untuk berhenti dan bertanya ke warung-warung yang masih buka di pinggir jalan, tapi  masih tak menemukan alamat yang di tuju.  Akhirnya dengan kesal aku minta sopir berhenti dan aku sendiri yang akan bertanya, sampai akhirnya jam 01.00 WITA aku sampai ke tempat yang dituju dan aku langsung memutuskan untuk  langsung tidur saja.

Perjalanan Tak Direncanakan

Seminggu  berlalu, waktu kulihat kalender ternyata hari jumat libur, naluri petualanganku mendadak muncul, mumpung di Timur Indonesia pikirku.  Ada beberapa tempat yang mulai searching di smartphoneku, Manado, Halmahera sampai Manila.  Tak ada penerbangan langsung, yang memungkinkan hanya Ambon.  Dengan harga tiket yang lumyan mahal dan waktu yang hanya tiga hari, aku kembali menimbang-nimbang.  Aku coba cari alternatif yang lebih dekat, muncul nama Tanjung Bira dan Toraja.  Akupun mencari informasi, sampai akhirnya aku putuskan pergi ke Tanjung Bira, hanya berjarak 200 km dari Makassar dan dapat dicapai dengan menggunakan bus.  Keinginan ke Tanjung Bira aku sampaikan kepada seorang teman, sekaligus juga mencari informasi stasiun bus di kota Makassar.  Tak disangka ternyata dia malah   menceritakan rancanaku kepada teman kostku dan  menawarkan untuk pergi ke Toraja, Gayungpun bersambut dan rejeki memang tak kemana.

Rencana disusun seadanya, “kami akan berangkat jam 04.00 subuh dengan menggunakan mobil Toyota Avanza”. Malamnya aku tak bisa tidur sampai  ku lihat jam tangan menunjukkan pukul 03.00 WITA.  Aku bangun dan mulai berkemas dan aku mulai gelisah, ketika ku lihat pintu kamar temanku masih tertutup rapat.  Tak ada tanda-tanda aktivitas.  Ku beranikan diri mengetuk pintu kamarnya tapi tak ada jawaban.  Aku kembali ke kamarku dan menunggu.  Tak lama pintu kamarku di ketuk.  Aku melompat dari tempat tidurku, siap berangkat.

Mobil melaju meninggalkan kota Makassar, aku memaksa untuk nyetir entah karena segan dengan teman baruku atau  sebagai bentuk  terimakasih karena ditawari kesempatan  langka ini.  Perlahan matahari mulai naik, silaunya menghalangi pemandangan.  Kiri kanan jalan terhampar sawah dengan latar belakang bukit berbatu , jalanan cukup mulus dan sepi berbeda jauh dengan jalanan di kampungku.  Tujuan awal  kami  sebelum ke Toraja adalah kota Pare-Pare  dan  sarapan pagi  disana.  Aku memacu mobil cukup kencang sementar  ku lihat disebelah temanku terlelap.  Perlahan rasa kantuk mulai menyerang.  Berkali-kali  menguap sebagai tanda kurangnya oksigen yang masuk ke otak.  Aku hilang sadar, tertidur dengan mobil yang melaju kencang dan hanya beberapa detik kemudian aku kembali tersadar. Jantung berdebar keras, dalam keadaan mengantuk seperti ini  kondisi terburuk bisa saja terjadi.  Aku tak mau ambil resiko yang lebih besar.  Membangunkan teman disebelahku dan mengajak berhenti di warung pinggir jalan.  Jadilah kami menikmati jagung rebus sambil beristirahat menghilangkan kantuk.

Patung pahlawan Toraja terletak di pusat kota Makale

Patung pahlawan Toraja terletak di pusat kota Makale (Canon eos M /lensa 17-40 mm f4)

Waktu menunjukkan jam 14.00 siang waktu kami memasuki kota Makale, ibukota kabupaten Tana Toraja.  Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat untuk makan siang.  Mengingat mayoritas penduduk disini non muslim maka agak sulit mencari warung dengan label halal.

Setelah berputar-putar di pasar Makale, akhirnya kami menemukan warung yang kami cari,  persis di sebelah Masjid. Saat menikmati makan siang aku di kejutkan suara gaduh dari jalan, aku melongok keluar.  Serombongan orang berpakaian hitam-hitam berjalan dengan  berbaris.  Jumlahnya mencapai puluhan dan dibagian depan terlihat beberapa laki-laki menggotong benda kayu berbentuk bangunan adat.  Kiranya ini adalah upacara menuju  pemakaman, sedangkan bangunan adat yang di gotong adalah keranda yang berisi jenazah

Selesai makan siang, kami berkeliling kota sejenak dan berhenti di inti kota.  Terdapat kolam besar dan ditengahnya sebuah patung manusia  berdiri gagah “Lakipadada” Bangsawan Toraja yang konon karena takut akan kematian , mengembara mencari mustika “Tang Mate” supaya bisa hidup kekal.  Sampai akhirnya bukan mustika yang beliau dapat tapi seorang  istri dari keturunan bangsawan Gowa.  Selanjutnya bisa ditebak, kisah ini berakhir happy ending, beliau menjadi raja Gowa dan seterusnya mengembangkan kerajaan Gowa ke seluruh Sulawesi.

Gereja Makale

Gereja di tengah Kota Makale (Canon Eos M/ lens 17-40 mm f4)

Tak lama di Makale, akupun meneruskan perjalanan menuju Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara Hanya berjarak kurang dari 1 jam perjalanan dari Makale. Menjelang memasuki kota aku melihat tanda petunjuk di pinggir jalan  ke arah bukit menunjukkan lokasi kuburan  yang menjadi keunikan dan daya Tarik Toraja.  Kami memutuskan untuk singgah “Londa “ nama tempat  tempatnya.  Menurut infoormasi yang ku dapat usia pekuburan itu sudah mencapai 500 tahun. Jalan menuju Londa sempit dan berliku membuat aku harus konsentrasi penuh, meleng sedikit hampir bisa dipastikan akan berakhir ditengah sawah.  Sampai ditujuan, mobil ku parkirkan di lokasi  yang telah disediakan.  Didepanku nampak beberapa kios yang menjajakan souvenir khas Toraja.  Seekor hewan besar dengan pandangan mengenaskan  tertambat di pohon. Kerbau hewan yang identik dengan kehidupan  masayarakat Toraja. Karena hampir semua upacara  suka atau duka cita , bisa dipastikan akan melibatkan hewan ini.

Aku menaiki tangga dan selanjutnya turun menyusuri jalan setapak.  Mataku tertuju pada  tengkorak manusia berserakan di mulut gua  dan di tebing nampak peti mati terbuat dari  batu dengan susunan tak beraturan. Entah bagaimana caranya menaikkan peti mati ke lereng terjal atau dalam bahasa setempat disebut makam Batu Lemo, yang pasti menurut informasinya, tujuan meletakkan mayat di tempat tinggi adalah supaya dekat dengan Tuhan.  aku memperhatikan lubang besar di lereng, di dalamnya nampak  patung yang dipahat berbentuk manusia utuh.  Patung-patung itu disebut masyarakat setempat dengan nama Tao-tao dibuat sebagai gambaran orang-orang (mati) yang dikuburkan disitu.    Suasananya mencekam, aura kematian dan seni bercampur menjadi satu. Udara dingin dan lembab menambah mistis tempat itu.  Beberapa pemuda datang menawarkan untuk menyusuri gua yang penuh dengan kerangka dan peti mati, mereka membawa penerangan berupa lampu “patromax”.  Aku menolak, terutama karena hari sudah menjelang gelap.  Akupun memutuskan untuk  meninggalkan kuburan  itu dan segera mencari hotel untuk beristirahat malam itu.

Patung Tao-tao dalam bentuk souvenir

Patung Tao-tao dalam bentuk souvenir (Canon Eos M/lensa 17-40 mm f 4)

Tengkorak dan kerangka menjadi pemandangan biasa

Tengkorak dan kerangka menjadi pemandangan biasa (Canon EOS M/lensa 17-40 mm f4)

Tao-tao, pahatan manusia utuh di makam Toraja

Tao-tao, pahatan manusia utuh di makam Toraja (Canon EOS M /lensa 17-40 mm f4)

Beginilah bentuk kuburan di Londa

Beginilah bentuk kuburan di Londa (Canon EOS M/lensa 17-40 mm f4)

Kota Rantepao, merupakan kota kecamatan sekaligus  ibukota kabupaten Toraja Utara, hanya sebuah kota kecil yang tak terlalu ramai.  Setelah mencari dan bertanya ke beberapa orang kami memutuskan menginap di Rantepao Lodge, sebuah penginapan dengan arsitektur Toraja dan terletak di tengah persawahan. Walaupun sederhana fasilitasnya lumayan lengkap, hanya saja tak semua fasilitas buka, sangat tergantung jumlah tamu yang datang.  Setelah menyelesaikan semua administrasi aku dan temanku duduk menikmati sore di pinggir kolam renang, memandang perbukitan dengan segelas kopi toraja sambil menikmati kesunyian dan menunggu turunnya kegelapan.