Tags

, , , , ,


Kembali ke era film analog ? tidak persis seperti itu. Kamera analog (film) cenderung merepotkan dan tidak praktis untuk era sekarang. Membandingkan hasil dari kamera digital vs analog (film) juga tak  adil, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan sangat tergantung sudut pandang setiap orang. Aku sendiri bukan orang yang suka memperdebatkan  hal itu. Lantas kenapa aku memotret dengan kamera analog ? karena aku “mau” hanya itu alasannya

“It’s all photography.”

“No one cares if its film or digital.”

“The final image is all that matters.”

Braun-SR2000-Kodak-Color-Plus-asa-200-#1

Merambat (Braun SR 2000/ kodak colorplus asa 200)

Berawal dari bongkar-bongkar lemari aku menemukan kamera analog  SLR Pentax K2 lengkap dengan lensa SMC Pentax 50 mm f 1.2 kepunyaan almarhum bapak mertua yang waktu dicoba ternyata shutter nya macet,  membuat aku kembali teringat SLR Braun Sr 2000 yang jadi penghuni setia dry box di rumahku.

Braun-SR2000-Kodak-Colorplus-ASA200-#6

Berhadapan (Braun SR 2000/ kodak colorplus asa 200)

Kamera ini seluruhnya dikendalikan secara manual, hanya light meter yang menggunakan baterry (dua buah battery LR 44).  Dikotak  kamera tertulis  bahwa kamera ini buatan Jerman tapi dari beberapa media online yang kubaca disebutkan bahwa kamera ini dibuat di China.  Sudahlah tak ada yang perlu di complaint atau dibanggakan dari informasi itu. Kalau kamera itu buatan Indonesia barulah aku akan berteriak bangga.  Kamera Braun SR 2000 yang terakhir kali kutekan shutter nya di tahun 2013 itu mulai kubersihkan

Braun-SR2000-Kodak-Colorplus-ASA200-#10

Jembatan gantung, dekat stasiun kereta api Medan (Braun SR 2000/Kodak colorplus asa 200)

Untitled-179

Sembahyang di Vihara Gunung Timur Medan (Braun SR 2000/Fujisuperia asa200)

Di produksi sekitar tahun 80 an untuk dua jenis mounting yaitu Pentax dan Minolta, kamera ini  mudah digunakan. Cukup loading film 135 mm (sering juga disebut film 35 mm), kokang dan jepret . Hal yang paling menantang pada penggunaan kamera full manual adalah memaksimalkan light meter. Untuk Kamera Braun ini metering ditandai dengan lampu berwarna merah dan hijau, untuk mudahnya aku  set shutter speed terlebih dahulu baru bukaan aparture disesuaikan untuk jumlah cahaya masuk yang diinginkan, teknik ini  dikenal  dengan Shutter speed priority atau biasanya di lambangkan dengan huruf S atau TV di kamera-kamera modern (digital) hanya saja dengan kamera yang keseluruhan pengaturan manual maka setting aparture pun  tetap dilakukan manual, jadi sebenarnya metode yang aku pakai adalah gabungan dari Tv dan M (manual). Membingungkan ? gak koq, kalau dipraktekkan tak akan serumit yang dibayangkan.

Untitled-159

Masjid di Bagan Siapi-api Riau (Braun SR 2000/Fuji Superia asa 200)

Braun-SR2000-Kodak-Colorplus-ASA200-#8

Stasiun kereta Medan (Braun SR 2000/kodak colorplus asa 200)

Persoalan lain adalah aku tak punya stok film dan tak tahu harus develop dimana. Akhirnya lewat online shop aku membeli beberapa roll film, sedangkan untuk develop aku percayakan kepada  Soup n Film  di Jalan proklamasi no 72 Pegangsaan, Menteng Jakarta. Aku coba kontak lewat website http://www.soupnfilm.com. Pelayanan yang hangat dan rekomendasi dari beberapa orang teman membuat aku cukup yakin

Perburuan dimulai, SLR Braun yang memiliki mounting Pentax K memudahkanku untuk mencoba beberapa jenis lensa Pentax yang aku miliki,  termasuk beberapa lensa M 42 (untuk penggunaan lensa  M42 harus menggunakan adapter khusus).

Film based photography and wet darkroom printing is like music created in a live performance of a band. Digital photography is like music created in a studio session using a drum machine (Frank)