Tags

, , , , ,


Waktu mendengar Festival Kopi, dengan embel-embel “internasional” pastilah  tentang kopi termasuk pernak-perniknya. Terbayang olehku ruang pamer yang dipenuhi dengan foto atau video yang menyuguhkan gambaran tanaman, petani, tataniaga, cara menyuguhkan  atau apapun yang berkaitan dengan kopi. Tak ketinggalan sebuah layar lebar yang memutarkan film dokumenter tentang sejarah kopi dan kehidupan petani kopi di negara-negara produsen atau kebiasaan orang di negara penikmat kopi.

img_20160515_172334_145.jpg

Sada Coffee, salah satu peserta produsen dan peserta Festival dengan produk unggulannya kopi arabica “Gayo” , memberikan rasa wine pada seduhannya /Pentax K30 (digital), SMC Pentax K 50 mm f1.7)

Di stan pameran, para barista dari berbagai daerah dan negara berdemonstrasi meracik kopi. Para produsen, pedagang dan petani berkumpul membawa hasil kopi terbaik, bernegosiasi dan berakhir dengan sebuah kerjasama. Masyarakat yang awam sepertiku akan disuguhkan suatu pertunjukan yang akan membuatku semakin mencintai kopi.

Tak butuh waktu lama sampai akhirnya aku sadar bahwa ini untuk kesekian kalinya aku kecewa.  Judul yang terasa wah menjadi hambar waktu aku melihat stan hanya berisi sedikit produk sample tanpa nuansa festival yang menjadi hayalku . Yang justru menarik perhatianku adalah sekelompok artis tatoo sedang beraksi. Dengan tubuh warna warni hasil rajahan, mereka tampak menonjol. Bahkan salah seorang dari mereka merajah hampir seluruh wajahnya sampai membuatku ngilu. Pada kenyataannya  stan tatoo ini justru lebih ramai dibandingkan dengan stan  kopi. Sehingga muncul keraguanku “Festival tatoo atau kopi?”

img_20160515_172029_715.jpg

Artis tatoo dengan rajahan yang hampir menutup seluruh wajahnya (Pentax K30 , lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7)

img_20160514_165202_971.jpg

Pentax K30/ lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7

Pembawa acara berkeliling stan dan berbincang dengan peserta. Dengan pengeras suara mencoba bertanya pada peserta yang seingatku berasal dari Tunisa. Mungkin dia ingin membangun image “International” seperti judul acara.  Sayangnya si Tunisia justru membicarkan panganan di negaranya  yang yang tak ada sangkut pautnya dengan kopi. Di tambah lagi di panggung utama berlangsung talkshow membahas traveling. Aku pun jadi pusing sendiri.

img_20160514_164820_903.jpg

Pentax K30/SMC Pentax 50 mm f 1.7

img_20160514_165944_764.jpg

Pentax K 30 /SMC Pentax 50 mm f 1.7

Seseorang datang mendekat, dia menginformasikan bahwa nanti malam ada pemilihan miss coffee. Aduh..apalagi ini, aku makin bingung dengan fokus acaranya. Alangkah baiknya jika kegiatan seperti itu dibuat terpisah ? Bukankah akan jauh lebih menarik  jika setiap bulan ada festival di Kota ini. “Festival seni rajah, festival traveler, festival putri-putrian ?”

imgp3712.jpg

Pentax K30/SMC Pentax 50 mm f 1.7

 

img_20160514_165748_395.jpg

Pentax K30/SMC 50 mm f 1.7

No tea, no tomato juice
You’ll see no potato juice
The planters down in Santos all say “No, no, no”

Penggalan lirik lagu “The Coffe Song” nya Frank Sinatra pun bilang tak  ada teh, jus tomat dan jus kentang apalagi tatoo, traveling atau putri-putrian.

“Ini Medan bung !”, sebuah istilah yang bisa diartikan secara negatif atau positif tergantung selera. Sampai jumpa di festival kopi tahun depan, tapi tolong jangan patahkan hatiku lagi.

img_20160515_172930_961.jpg