Tags

, , , , , , ,


Langit biru di atas kita boleh runtuh,  bumipun boleh rubuh. Sedikit artinya bagiku, jika kamu mencintaiku. Aku tak peduli sedikitpun pada dunia. Selama cinta masih membanjiri pagiku, dan tubuhku bergetar karena sentuhanmu. Sedikit artinya segala masalah di dunia ini. Kekasihku, karena kau mencintaiku”

img_20160528_112159_830.jpg

Bait lagu Edith Piaf Hymne a L’amour atau Hymne cinta pelan terdengar melalui earphone, menemaniku langkahku. Pagi itu matahari bersinar cerah  dengan angin yang berhembus pelan, tapi  itu  cukup membuatku harus merapatkan kancing jaket. Sekarang Arc de Triomphe yang secara harfiah diartikan sebagai gapura atau gerbang berada persis dihadapanku. Dengan ukuran 45 x 22 meter dan tinggi 49 meter,  Arc  sempurna sebagai pintu masuk  ke jalan Champs Elysees tempat toko dan pusat perbelanjaan mewah Paris berada.

img_1191.jpg

Arc de Triomphe yang menjadi titik pertemuan 11 jalan di kota Paris

Berawal dari cita-cita Napoleon Bonaparte untuk menjadikan Paris menjadi ibukota tercantik di Eropa, pembangunannya dimulai,  Dindingnya dituliskan 558 nama Jendral  pasukan Napoleon dan mereka yang tewas di Medan pertempuran. serta bagian bawahnya dijadikan kuburan prajurit tak dikenal yang peti matinya dimasukkan kedalam kapel.  Disitu  terdapat tulisan

Disini terbaring tentara Prancis yang meninggal untuk tanah airnya 1914-1918

Uniknya, monumen tidak memasukan nama pasukan yang bertempur di Waterloo. Entah karena pertempuran Waterloo yang berakhir dengan kekalahan dan sekaligus mengakhiri karir politik dan militer “La Petit Caporal” atau Kopral Kecil (julukan Napoleon Bonaparte) atau adakah penyebab lain ? Yang jelas monumen cantik ini masih berdiri kokoh di tengah Kota Paris dan menjadi icon wisata yang wajib dikunjungi traveler.

img_1185.jpg

Av. Des Champs Elysees

Puas menikmati suasana di sekitar Arc de Triomphe, perjalanan dilanjutkan ke Louvre.  Museum seni  terletak di Rive Droite Sine Paris komplek museum seluas 60.600 meter persegi ini menyimpan hampir 35.000 benda dari jaman pra sejarah sampai abad ke 19. Monalisa, lukisan perempuan karya Leonardo da Vinci   adalah salah satu dari koleksi di museum ini.  Namun siapa yang menyangka, bangunan megah ini pada awalnya adalah benteng dan berubah fungsi menjadi istana sebelum akhirnya difungsikan seperti saat ini.  Segera aku mengeluarkan kamera dan mulai memotret keadaan sekeliling.

Ditengah komplek musium nampak patung raja Prancis Luis XII sedang menunggang kuda dan tak jauh terlihat piramid kaca  yang merupakan gerbang masuk kedalam musium.  Sungguh kontras melihat sebuah banngunan futuristik dikelilingi bangunan yang bertema klasik.

img_1259.jpg

Louvre dengan pyramid kaca yang menjadi gerbang masuk kedalam museum

Dibagian dalam louvre,  Tampak ruangan-ruangan modern yang ditata apik,  Aku mengabadikan tempat ini dari beberapa sudut.  Tak lama di dalam musium akupun keluar,  tak mungkin memasuki seluruh ruangan dengan waktu yang aku punya saat itu.

img_1226.jpg

Pyramid (Kaca) terbaik

Berkeliling di halaman, aku memasuki lorong bangunan dengan pilar-pilar besar serta cahaya yang sangat cantik. Tapi waktu berjalan seperti cepat sekali, dan aku harus segera bersiap meninggalkan tempat itu.

img_1275.jpg

Bagian dari komplek museum Louvre

img_1241.jpg

Sarah satu lorong di museum Louvre

img_1299.jpg

Souvenir di lorong toko

Dengan berjalan kaki, aku  menyusuri jalan-jalan kota dengan tujuan akhir menara Eiffel. Cuaca yang bersahabat menjadi alasan aku melakukan itu.  Melewati  bangunan di kota banyak aku melihat toko souvenir dan cafe.  Aku masuk ke salah satu toko souvenir, miniatur menara Eiffel menarik perhatianku.   Made in China tertulis di bawah setiap miniatur Eiffel yang aku temui. Ahaa…  buatan China memang sudah merambah ke belahan bumi manapun.  Tak sengaja aku menemukan sebuah toko buku di tengah kota, aku masuk kedalam untuk melihat-lihat. Bagus sekali toko itu yang sayangnya tak ku ingat lagi namanya.  Buku-buku tersusun rapi dengan suasana mirip perpustakaan.  Menyenangkan sekali walaupun sebagian besar buku-buku tersebut berbahasa Prancis yang tak kumengerti. Betapa senang hatiku waktu melihat sebuah buku photography berjudul “Paris Mon Amour” yang kalau diartikan “Paris Aku Jatuh Cinta” berisikan foto-foto hitam-putih romantisme kehidupan di Paris karya photographer masa lalu dan ditulis dalam dua bahasa (Prancis & Inggris). Buku yang kelak menginspirasiku untuk mencintai foto hitam putih.

Sepanjang perjalanan, aku melihat hampir semua bangunan di kawasan ini berasitektur klasik dan hampir sepanjang jalan dipenuhi patung yang berdiri kokoh.  Aku melewati sempit yang bahkan tak ku tahu nama. Di trotoar  mulai banyak pejalan kaki berlalu lalang, dan beberapa orang gypsy dengan atraksinya.  Aku tak mendekat, karena beberapa informasi yang aku dapatkan sebelumnya.  Tak usahlah mencari masalah, batinku.

Kaki mulai letih sewaktu memasuki Place de la Concorde, duduk di taman sambil memperhatikan alun-alun terbesar di Paris yang berbentuk diagonal dan memperhatikan Obelisk  diapit oleh dua air mancur yang indah,  penuh dengan inskripsi zaman kejayaan raja Mesir, Ramses II.  Tugu Obelsik yang sekilas mirip dengan yang pernah aku lihat di Istanbul.  Kiranya kedua tugu tersebut berasal dari tempat yang sama yaitu Mesir.  Tugu tersebut merupakan hadiah dari Muhammad Ali yang merupakan penguasa Mesir pada zaman itu.  Sambil terus memperhatikan aku mulai berhayal tentang hukuman pancung dengan menggunakan kapak quillotine.  Hukuman pancung dengan menggunakan alat ini konon telah menelan korban 1300 orang hanya dalam waktu satu bulan pada era revolusi Prancis disekitar tahun 1793, termasuk diantaranya raja Prancis Louis XVI dan permaisurinya ratu Marie Antoinette harus meregang nyawa di tempat ini. Sampai akirnya Obelisk diletakkan persis di tempat dimana guillotine  sebelumnya,  sebagai lambang perdamaian.

img_1370.jpg

Place de la Concorde, alun-alun paling terkenal di Paris

img_1394.jpg

Luxor Obelisk ditengah alun-alun de la concorde

Sepenggal kisah tentang Marie Antoinette Permaisuri Raja Louis XVI yang lebih dikenal dengan kecantikan dan kisah perselingkuhannya.  bernama asli Maria Antonia Johanna Josephina merupakan bangsawan dari Austria yang menikah dengan Louise Aguste (kelak dikenal sebagai Louis XVI) menikah pada umur 14 tahun.  Waktu itu seluruh rakyat Prancis mengelu-elukan sang putri, karena kecantikan parasnya.  Keadaan berbalik sedemikian cepat.  Perempuan yang awalnya dikagumi menjadi sesorang yang paling di benci bahkan mendapat julukan L’Autrichienne (Perempuan Austria pemboros dan pengacau).  Ratu pesta yang kisah cintanya penuh drama, perselingkuhannya dari petugas Istal, sampai bangsawan Swedia Hans Axel Von Fersen menjadi cerita yang melegenda sampai kini.  Marie dihadapkan ke pengadilan dengan berbagai tuduhan penghianatan sampai tuduhan pelecehan anaknya sendiri.

Jika saya tidak menjawab, itu karena alampun menolak tuduhan itu dijatuhkan kepada seorang ibu”

Hanya itu pembelaannya dan tak cukup untuk membebaskannya dari tajamnya Guillotine.  Hari pengeksekusian tiba, dengan mengenakan gaun putih dan menumpang gerobak terbuka Marie dibawa ke Place de la Concorde.  Dengan rambut yang sudah dicukur pendek Marie menaiki tangga tempat eksekusi, dan tanpa sengaja menginjak kaki algojo yang akan mengeksekusinya.

Pardonnez-moi monsieur, Je ne L’ai pat fait expres

(Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja)

Kalimat terakhir dari Marie, sebelum akhirnya tajam guillotine memisahkan kepala dari tubuh sekaligus memisahkan roh dari raga, menyusul suami yang juga mengalami nasib yang sama empat bulan sebelumnya. Tragis, mungkin itu kata yang tepat menggabarkan kisah hidupnya sekaligus mengajarkanku tentang satu hal

Bukan bagaimana cara kamu memulainya,  yang penting bagaimana kamu mengakhiri  kisahnya.

Well … kaki lelah tak membuat semangatku menurun, perut lapar karena belum di isi tak lagi  kupedulikan.  Dari jauh aku melihat menara Eiffel  akan menjadi batas perjalanan hari ini semakin membesar karena jarak yang semakin dekat.  Aku kembali mengayunkan langkahku meninggalkan Place de la concorde dengan sejuta kisahnya.  Aku berjalan di sisi sungai Siene.  Banyak penjual barang seni  dan antik disana. Di bagian lain, cafe dipinggir jalan penuh dengan pengunjung

img_1413.jpg

Penjual barang seni ditepi sungai Seine Paris

IMG_1436

Gembok cinta

Siene, sungai yang membelah kota Paris menjadi dua bagian Utara dan selatan, sungai ini tampak cantik dan bersih.  Terdapat 37 jembatan yang menghubungkan bagian kota Paris tadi. dan salah satunya adalah jembatan yang dipenuhi dengan gembok.  Awalnya aku tak terlalu peduli karena memang tak tau maksudnya, sampai saat aku perhatikan ternyata disetiap gembok terdapat tulisan nama pasangan sebagai symbol keabadian cinta.  Ada-ada saja cara orang mengekspresikan cinta dan Paris dipenuhi dengan itu.   Nom de L’amore /Semua demi cinta. (Belakangan informasi yang aku dapatkan ternyata gembok-gembok ini telah dibongkar, karena jumlah dan beratnya dikhawatirkan akan merubuhkan jembatan)

img_1406.jpg

Jalan menuju stasiun dipenuhi Cafe pinggir jalan

img_1419.jpg

Jalanan Paris dengan bangunan klasik

Melewati tempat-tempat yang menarik aku sampai ke Notre dame, Katedral katolik yang berasitektur ghotik, menjadi salah satu icon kota Paris.  Ramai sekali pengunjung tempat itu, dan uniknya lebih banyak turis yang sekedar ingin melihat dan mengagumi seni arsitekturnya ketimbang umat Katolik yang akan beribadah.  Atau mungkin saja karena pada saat aku berkunjung, bukan waktu diadakannya misa.  Melihat turis yang mengular untuk masuk, aku mengurungkan niatku untuk melihat bagian dalam katedral itu.  Aku hanya berkeliling melihat-lihat dan akhirnya mampir ke salah satu cafe di sebelah Katedral.

img_1458.jpg

Notre Dame de Paris, katedral bergaya ghotic

Memesan minuman dingin untuk melepas dahaga, akupun sibuk dengan pikiranku tentang tempat itu.  Tanpa aku sadar seorang perempuan setengah baya memperhatikanku.  Akhirnya dia menegur, sehingga terjadi perbincangan singkat. Dia menanyakan asalku, dan menunjukkan ekspresi kaget waktu aku sebutkan Indonesia.  Dengan kulit gelap, mungkin dia menyangka aku dari Afrika. Sedikit berbasa basi aku menyakan tujuannya dan ternyata dia  penduduk  Paris berprofesi sebagai editor sebuah majalah. Perempuan itu hanya bilang bahwa dia sudah memperhatikanku sejak di depan Katedral, dan dia tertarik dengan cara aku memotret terutama kamera yang aku bawa sehingga dia pikir aku seorang photographer Profesional. Seandainya dia tahu bahwa kamera yang ku bawa  hasil gusuran teman dengan  lensa pinjaman mungkin pandangannya akan berubah seketika, belum lagi jika melihat hasil foto yang seada-adanya kadang bikin aku malu sendiri  dengan kamera yang aku bawa hahaha….  Aku tak memperpanjang percakapan, anggap saja itu keramahan tuan rumah terhadap pendatang. Tak lama perempuan itu pergi meninggalkanku dengan sepedanya.

img_1449.jpg

Patung dan ornamen di pintu masuk Katedral

Hari menjelang sore waktu akhirnya  taksi menjadi pilihan menuju Eiffel. Menara yang terdiri dari potongan-potongan besi ini terletak di taman Champ de Mars. Landmark Kota Paris ini sudah berdiri lebih dari 120 tahun, namun masih terlihat kokoh. Diambil dari nama seorang arsitek Gustav Eiffel bahwa menara ini sebenarnya bukan karya beliau. Hanya saja Gustav membeli hak paten atas rancangan menara ini dari dua orang arsitek lainnya.

img_1135.jpg

Eiffel tower, awalnya merupakan Menara pemancar radio, sekarang menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi

Eiffel selalu dipenuhi banyak pengunjung.  Mereka berdesak-desakan menuju lift untuk dapat menaiki menara itu. Aku menjadi salah satu diantaranya.  Di banyak tempat terdapat  pengumuman yang mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati terhadap pencopet. Ada dua restoran yang beroperasi di Eiffel dan sebaiknya dikunjungi pada malam hari. Karena akan menyajikan pemandangan kota Paris yang bermandikan cahaya.

IMG_1496

Sungai Seine membelah kota Paris

IMG_1526

Menara eiffel dari kejauhan

Melihat kota Paris dari bagian atas menakjubkanku. Sungai Seine yang membelah kota dan bangunan abad pertengahan memanjakan mata. Tapi waktu memang tak mau kompromi. Perjalanan harus berhenti dan bersiap untuk perjalanan berikutnya.