Tags

, , , , , ,


Tak perlu jauh  untuk melihat pemandangan spektakuler, hanya berjarak kurang lebih 50 kilometer dari pusat kota Medan, Sumatera Utara atau ditempuh dalam waktu 2 jam  maka kita akan sampai ke titik berakhir yang dapat dilalui kenderaan bermotor dan  dilanjutkan dengan berjalan kaki. Buat aku  yang tinggal di kota  Medan  gunung Sibayak mungkin bukan tempat yang dianggap cukup istimewa, karena aku    dengan mudahnya mencapai tempat ini.  Sampai pada satu waktu di pegunungan Himalaya  aku bertemu dengan seorang  Italia dan  dia bercerita tentang pengalamannya di Indonesia. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah puncak gunung Sibayak. Pertemuan singkat itu akhirnya menyadarkanku betapa sesuatu yang dianggap biasa saja, bisa jadi adalah hal yang luar biasa jika dilihat dari “kacamata” berbeda.

2016_0309_183252002-01.jpeg

Pendaki berjalan menju puncak gunung sinayak

Gunung Sibayak, terletak di Brastagi, Kabupaten Karo Sumatera Utara. Gunung api setinggi 2.2012 meter dpl, terakhir kali meletus tahun 1881. Letusan dahsyat yang menyebabkan kawah gunung ini terkoyak dan  masih dapat dilihat sampai saat ini. Puncak tertinggi dari gunung ini diberi nama Takal Kuda yang dalam bahasa setempat yang diartikan sebagai kepala Kuda.

Ada tiga jalur yang umum dilalui pendaki untuk mencapai kawah dan masing-masing memiliki tantangan tersendiri. Jalur paling cepat adalah melewati kampung Raja Berneh. Meskipun singkat tapi jalur ini cukup curam dan licin, terutama jika hujan turun. Melewati jalur ini kita disajikan pemandangan hutan bambu sepanjang perjalanan.

Jalur pendakian  lain  melalui Penatapan, konon kabarnya jalur ini lebih panjang dan sulit, karena harus melewati hutan yang masih lebat. Jalur ketiga lebih umum, persis dibelakang bukit Gundaling dan untuk perjalanan kali ini aku memilih jalur ini.

2016_0309_18275000-01.jpeg

Pemandangan pagi menuju puncak gunung sibayak

Berangkat dari Medan yang seharusnya jam 03.00 WIB, molor menjadi jam 03.30 WIB.  Aku Sadar bahwa dengan kondisi seperti itu aku tak dapat melihat matahari pagi mengintip dari sela-sela bukit. Tapi tak apalah, Sibayak tak hanya matahari terbit, batinku. 

2016_0309_18575000-01.jpeg

Kawah gunung Sibayak

2016_0309_195214002-01.jpeg

Puluhun orang memilih mendirikan tenda di bibir kawah gunung

Hari masih gelap ketika aku memulai pendakian.  Jalan setapak yang  menanjak dipenuhi   hutan pandan berduri yang cukup lebat di kiri kanannya. Meskipun demikian jalur ini cukup aman walau sedikit licin karena sisa hujan.  Aku teringat beberapa tahun lalu  aku melewati jalan yang sama tapi dengan hutan pandan yang gundul bekas  terbakar. Menurut seorang petugas, bahwa kawasan tersebut terbakar sewaktu  sekelompok orang yang “katanya” “pencinta alam membuang puntung rokok secara sembarangan. Syukurlah saat ini hutan itu kembali rimbun.

2016_0309_193609002-01.jpeg

Pemandangan dari puncak gunung

Jalan setapak penuh dengan orang-orang yang punya tujuan sama . Kebetulan sekali bahwa hari itu akan terjadi gerhana matahari. walaupun tak dilewati gerhana matahari secara utuh, tapi puncak Sibayak tetap dipenuhi ratusan orang karena merupakan tempat terbaik untuk melihat fenomena alam yang langka itu.

2016_0309_19421200-01.jpeg

Suasana puncak gunung Sibayak

2016_0309_19513200-01.jpeg

Orang berkumpul menyaksikan gerhana matahari

Mendekati kawah, matahari sudah mulai bersinar terang, aku mengambil  Fujifilm XT1 dari ranselku, untuk perjalanan kali ini aku membawa 2 lensa Fujinon XF 14 mm f2.8 dan lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7 dengan adapter.

Gas berbau belerang yang keluar dari lubang disekitar kawah mengeluarkan suara  mirip  deru mesin pesawat. Sementara tenda warna-warni memenuhi area sampai ke bibir kawah.  Sampah-sampah bertumpuk disekitarnya.  Beberapa kali aku mengingatkan mereka untuk membawa sampah tersebut turun dan membuangnya ditempat yang seharusnya.

Takal kuda, puncak tertinggi gunung Sibayak

Takal kuda, puncak tertinggi gunung Sibayak

2016_0309_194128002-01.jpeg

Menyaksikan matahari

Beberapa batu gunung terlihat coretan coretan, beberapa menuliskan nama sebagai tanda dia pernah menjejakkan kaki kepuncak ini dan bahkan beberapa lagi mengukir nama kekasihnya di bebatuan itu. Aduhai…seandainya kau sayang dengan kekasihmu, ukir saja namanya dalam hati mu, karena alam tak perlu tau itu.

2016_0309_19453500-01.jpeg

Gunung Sinabung (2.460 m dpl) dapat dilihat dengan jelas dari puncak Sibayak

2016_0309_195426002-01.jpeg

Gunung Sinabung, sejak dari tahun 2013 tak henti-henti memuntahkan lava dari kawahnya

Waktu matahari semakin tinggi, akupun memutuskan untuk menuruni gunung meninggalkan kenangan yang melekat tentang keindahan gunung Sibayak dan berharap  nanti akan kembali lagi.