Tags

, , , , , , , , , , ,


 

Hanya  129 km dari kota Medan,  dan secara teori seharusnya jarak tersebut  bisa ditempuh dalam waktu 2 jam  dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Namun pada kenyataannya Tangkahan baru dapat dicapai dalam waktu 4 jam dengan menempuh perjalanan yang  melelahkan.  Betapa tidak, setelah melewati  kemacetan kota Medan, padatnya jalan lintas Sumatera aku dihadapkan  dengan jalan rusak dan berbatu serta perkebunan kelapa sawit dikiri kanan jalan yang membosankan. Bayangkan pohon sejenis berbaris seperti tak berujung, membuatku  memejamkan mata dan memilih tidur dalam guncangan.

imgp0702

Sungai Batang Serangan, menjadi gerbang masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL) /Pentax K30, Lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7

Sampai di pemberhentian terakhir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jembatan gantung yang membentang di Sungai Batang Serangan.  Dengan panjang  lebih kurang 50 meter dan ketinggian 10 meter dari permukaan air sungai, jembatan ini hanya bisa dilewati oleh 6 orang setiap sekali melintasinya. Kelihatan agak “ringkih” dan niscaya  akan menggetarkan kaki setiap orang yang tak biasa. Apalagi orang yang memiliki phobia tertentu.  Tapi tak perlu khawatir masih ada alternatif penyeberangan lain dengan menggunakan rakit. Dengan mengeluarkan biaya Rp. 3000,- maka kita dengan aman dan nyaman sampai ke seberang.

DCIM100GOPROG0674375.

Melintasi jembatan gantung yang akan bergoyang setiap kali kaki melangkah akan menciptakan sensasi tersendiri (Gopro Hero 4)

imgp0723

Hutan yang penuh dengan tumbuhan tropis / Kamera Pentax K30, Lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7

Masih dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak, ketika hujan mendadak turun dan semakin deras. Namun kondisi itu   tak membatasi hasrat untuk cepat sampai ke penginapan. Terutama karena rasa lapar yang  memaksa cacing dalam perut  berdemontrasi menuntut haknya.

imgp0693

Beberapa bagian sungai memiliki kedalaman sampai 4 meter, mengharuskan kita berhati-hati terutama untuk yang kurang pintar berenang (Kamera pentax K30/lensa SMC Pentax 50 mm f 1,7)

Jungle Lodge,  minim fasilitas namun cukup bersih dan nyaman. Terletak di tebing pinggir Sungai, aku bisa mendengar dengan jelas deru air sungai mengalir melewati bebatuan. Dihadapanku terhampar hutan hujan tropis yang sering dijuluki pengunjung asing sebagai surga tersembunyi (hidden paradise). Bukan tanpa makna, julukan itu mengacu pada kekayaan flora dan fauna yang terdapat didalam hutan hujan tropis Sumatera yang termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL) .  Gajah, Monyet Kedih, Orang utan Sumatera  bisa ditemukan ditengah lebat nya hutan. Atau mungkin saja  harimau Sumatera ??.  Para selebritas Indonesia dan internasional   pernah berkunjung kesini  Sebut saja aktor  Nicholas Saputra dan peraih Oscar Leonardo DiCaprio ikut berkampanye untuk penyelamatan hutan dan satwa di dalamnya.

Gajah Sumatera termasuk  hewan langka dan dilindungi menjadi icon disini.   Dikelola oleh NGO asing,  Gajah-gajah ini dirawat oleh dokter dari dari Jerman dan dilatih oleh mahout (sebutan untuk pelatih gajah). Walaupun sangat disayangkan kenapa harus orang asing ? sementara kita seperti tak peduli dengan tanah kita sendiri.  Bersama petugas  sang gajah yang sudah terlatih  melakukan patroli kedalam hutan, mereka Bertugas melindungi hutan dari manusia perusak  dan mengendalikan gajah liar yang masih tersisa supaya tidak masuk ke perkampungan penduduk.

imgp0758

Patroli gajah, menyusuri sungai dan masuk ke rimba untuk memastikan hutan selalu terjaga (Kamera Pentax K30/lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7)

Ada banyak hal unik dari satwa  ini, mereka digolongkan kedalam mamalia yang memiliki tingkat kecerdasan yang cukup tinggi, dan  walaupun dikelompokkan  kedalam species gajah Asia, namun secara ukuran gajah Sumatera lebih kecil dibandingkan gajah India. Apalagi jika dibandingkan dengan gajah Afrika. Tapi walaupun mereka  gajah terkecil, bobot gajah dewasa bisa mencapai 6 ton. Sampai akhirnya ditemukan species gajah yang lebih kecil di hutan Kalimantan yang disebut dengan gajah mini.

Ada kepedihan, membayangkan pada suatu hari satwa ini tak ada lagi di bumi Sumatera. Perlu kepedulian semua orang untuk memastikan satwa ini tetap lestari. Karena bagaimanapun mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan yang punya hak hidup sama dengan kita (kamera Pentax K30/lensa SMC pentax 50 mm f 1.7)

g0854558

Segerombolan gajah sedang menikmati jernihnya air sungai Tangkahan (Gopro Hero 4)

Saat ini jumlah populasi gajah liar Sumatera tak lebih dari 2.500 ekor dan terus menurun setiap tahunnya, penyebabnya tentu saja karena manusia yang tak bertanggung jawab, perusakan hutan, pembukaan lahan perkebunan secara massif dan perburuan gading menjadikan hidup hewan ini selalu terancam dari waktu ke waktu.

Kesetiaan dan pengabdian mahout diantara gerombolan gajah Sumatera (Kamera Pentax K30/lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7)

Aku tersadar sewaktu gerombolan gajah masuk ke sungai, ritual harian dimana setiap jam 9.00 pagi dan jam 16.00 sore kita dapat menyaksikan gajah berendam dijernihnya air sungai.  Meskipun gajah bukan hewan yang suka air tapi aktifitas mandi perlu buat mereka. Terdapat tiga ekor anak gajah yang ikut dalam kelompok, kiranya pusat perawatan gajah di Tangkahan berhasil membiakkannya. Menurut informasi petugas, anak-anak gajah tersebut berusia 1 tahun dengan berat mencapai 200 kilogram.

Sementara sang induk dengan senang hati masuk kedalam sungai, anak gajah harus dibujuk petugas untuk mengikuti induknya.  Mungkin mereka belum terbiasa.  Pemandangan yang mengharukan ketika induk gajah dengan sukarela membaringkan dirinya di pinggir sungai, sementara para pengunjung dengan antusias menggosok tubuhnya.  Untuk  ini setiap pengunjung dipungut biaya sebesar Rp.100.000,- jumlah yang tak seberapa dibanding besarnya kebutuhan dan pengorbanan para pencinta satwa ditempat ini.

imgp0761

Seorang mahout dengan gajahnya di pinggir sungai (Kamera Pentax K 30/lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7)

 

imgp0750

Seekor induk gajah ditengah sungai (Kamera pentax K 30/lensa SMC Pentax 50 mm f 1.7)

Masih ada hal lain yang bisa dilakukan, yaitu melakukan patroli hutan, dimana pengunjung ditemani petugas menunggang gajah melakukan patroli di hutan belantara. Untuk aktifitas ini tentu saja ada biaya tambahan.  Dengan waktu yang singkat, hal itu tak mungkin kulakukan. Kembali ke penginapan, melompat dari tebing dan menikmati sejuknya air sungai menjadi pilihan terakhir sebelum meninggalkan gerbang surga ini.

“Sayangi dan lindungi hutan dan semua makhluk yang ada didalamnya !!!”