Tags

, , , , ,


CAPPADOCIA, KETIKA BULAN PINDAH KE BUMI — Menjadi saksi sejarah panjang peradaban umat manusia.  Cappadocia (Kapadokiya) terletak di Anatolia Tangah, Turki telah didiami oleh bangsa Het setidaknya sejak 3.000 tahun silam.  Dengan teknologi masa itu bangsa Het  memahat batuan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal dimana sampai saat ini karya mereka masih dapat kita lihat  kemegahannya.

Sudut terbaik untuk menikmati Cappadocia yang oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia  adalah lewat udara dan itu yang membuat aku dan Molly memutuskan untuk mengikuti  tour balon udara walaupun dengan biaya yang lumayan mahal untuk ukuran kantongku

Setelah membayar tiket di hotel, aku hanya bisa pasrah menunggu esok. Informasi bahwa perjalanan ini bisa saja dibatalkan apabila cuaca tak mendukung sedikit mengkhawatirkanku. Walaupun di Anatolia musim dingin tak seheboh Istanbul, tapi semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Jam 5.00 dinihari aku dan Molly sudah bersiap di mini van yang menjemput dan tak sampai 30 menit berikutnya kami tiba   disebuah restoran sebagai titik kumpul peserta tour. Sembari  menunggu aku menikmati sekelas kopi hangat, mencoba mengusir  dingin yang mendekap.

2015_02210848.jpg

Formasi batuan yang disebut Peribacalari di Cappadocia (Fujifilm XE2/Fujinon XF 23 mm f 1.4)

Pilot memberikan pengarahan singkat, dengan gaya kocak dia menjelaskan peraturan keselamatan dan berusaha meyakinkan peserta bahwa semuanya akan  baik-baik saja. Aku tak terlalu peduli, ini bukan pengalaman pertamaku naik balon udara, walaupun dengan situasi berbeda. Molly terlihat  santai, tak tampak raut kekhawatiran diwajahnya. Mungkin rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya dan perlahan balon udarapun meninggalkan landasan.

2015_02210749.jpg

Permukaan bumi dilihat dari langit Cappadocia, seolah Bulan Pindah ke Bumi (Fujifilm XE2/Fujinon XF 23 mm f 1.4)

Di langit Cappadocia, aku disuguhi pemandangan yang tak biasa, melihat daratan dengan sedikit tumbuhan meranggas  berselimut salju tipis membuatku tak habis-habis menekan shutter kamera Fujifilm XE2 yang selalu siap ditanganku. Semakin tinggi, permukaan tanah terlihat seperti berkerut dengan warna keabu-abuan. Mungkin ini yang disebut “mirip” permukaan bulan. Semua peserta terlihat sangat antusias, angin dingin yang menusuk tulang seolah tak lagi menjadi penghalang.

Fujifilm XE2/Fujinon XF 23 mm f1.4

Fujifilm XE2/Fuinon XF 23 mm f 1.4

Perlahan diufuk timur matahari malu-malu keluar dari balik bukit berbatu. Cahayanya  menyinari puluhan balon yang mengudara. Sesekali pilot menurunkan ketinggian  hanya  beberapa meter dari permukaan tanah, berkelok-kelok diantara bebatuan berbentuk jamur lengkap dengan ventilasi pintu dan jendela. Orang-orang menyebutnya rumah merpati dan sebagiannya lagi menyebutnya rumah Flinstone.

Matahari terbit di Cappadocia (Fujifilm XE2/Fujinon XF 23 mm f 1.4) .

60 menit berlalu begitu cepat, perlahan pilot mulai menurunkan ketinggian bersiap siap untuk mendarat. Di bawah aku lihat melihat crew  mulai bersiap diatas mobil pickup dan gandengannya. Dengan cara yang menurutku sangat professional, pilot melakukan pendaratan tepat diatas gandengan.

 

Batuan di Cappadocia (Fujifilm XE2/Fujinon XF 23 mm f1.4)

Fujifilm XE2/Fujinon XF 23 m f 1.4

Nyaris tak ada benturan yang berarti. Semua peserta turun dengan gembira. Penerbangan sukses dan layak dirayakan. Segelas champagne ditangan menjadi tanda berakhirnya perjalanan melihat bulan di bumi Cappadocia. 

Baca juga : Istanbul, Kota Dua Benua