Tags

, , , , , , ,


Apa yang kita alami  hari ini mungkin  kita anggap biasa saja , padahal tanpa kita sadari sesungguhnya kita sedang menciptakan masalalu–Dee

Aku memulai perjalanan subuh dari rumah agar tak tertinggal pesawat Lion JT 970  yang akan membawaku menuju pulau Batam.  Setelah melewati semua prosedur standard di bandara, akupun masuk kedalam kabin dan duduk di kursi 16 F. Disebelahku duduk seorang nenek yang akan mengunjungi anaknya.  Beliau rajin bercerita tentang kampungnya di Samosir sana. Dia bilang dia harus berangkat sehari sebelum penerbangan dan menginap ditempat sanak saudaranya di Lubuk Pakam. Aku sempat  membantu  nenek memasangkan safety belt dan tak terlalu serius menanggapi pembicaraannya. Aku lebih asik dengan lamunanku tetang tempat yang ku tuju sambil sesekali melihat ke jendela.  Menjelang pendaratan, pesawat berputar-putar di Batam. Pulau yang pernah menjadi tempatku mengais nasib  5 tahun lamanya. Tapi ini bukan perjalanan nostalgia karena pasti akan berbeda kisah disetiap episodenya walaupun akupun tak tahu atau lebih tepatnya tak peduli ini perjalanan tentang apa.

Lion air, Batam, Pulau Batam

Pulau Batam dari atas pesawat Lion Jt 970 sesaat sebelum mendarat

Bandara Hang Nadim, Batam

Menuju terminal kedatangan di Bandara Hang Nadim Batam

Bandara hang Nadim, Fujifilm Xpro2

Terminal kedatangan bandara Hang Nadim Batam Kepulauan Riau

Jam 08.16 WIB pesawat mendarat mulus di Bandara Hang Nadim Batam. Diluar sana langit masih tertutup mendung yang pekat. Lagu Antara Anyer dan Jakarta menyambutku di Provinsi  Kepulauan Riau. Terminal kedatangan masih sepi, aku menyempatkan untuk melihat sekeliling dan tak ada yang berbeda dibandingkan dengan sewaktu aku terakhir datang kesini beberapa tahun lalu, mungkin yang berbeda adalah  kali ini tak ada yang menjemput di terminal kedatangan.

Kopi menjadi hal pertama yang ada dikepalaku saat itu. segelas kopi seperti biasa akan  membantuku berpikir. Ketika gelas hampir kosong barulah kuputuskan untuk memilih rute perjalanan.  Pulau Penyengat dan itu artinya aku harus segera berangkat ke pelabuhan Punggur dan memulainya dari sana.  Aku berjalan menuju stasiun Damri, sayang tak ada rute ke Punggur. Aku coba aplikasi Gojek dan bisa ditebak sejurus kemudian aku sudah diatas sepeda motor.

Pilihanku menggunakan moda transportasi ini ternyata tak salah,  jalanan macet karena pelabuhan dan akses menuju pelabuhan  sedang mengalami renovasi berat.  Sewaktu aku memasuki gedung terminal, teriakan dari arah counter tiket terdengar tak asing namun cukup mengagetkanku. Masing-masing menawarkan harga termurah atau jam keberangkatan yang lebih cepat. Suasana begitu berisik, padahal tak banyak calon penumpang. Aku memilih satu diantara counter tersebut. Penjaga loket menawarkan tiket ke pulau Dabo. Sejenak aku hampir tergoda, sedetik kemudian aku kembali ke rencana awal. Tiket seharga Rp. 52.000 berpindah ketanganku, ditambah pajak pelabuhan sebesar Rp. 10.000 dan aku sudah berada di kapal Marina Batam 2.

pelabuhan punggur, batam

Suasana di pelabuhan Punggur, dalam pengerjaan untuk perbaikan

pelabuhan punggur, batam

Bangunan darurat yang berfungsi sebagai counter tiket

Perlahan kapal meninggalkan pelabuhan, petugas  mulai mengecek tiket penumpang. Didalam  kapal, diputar  film action Mandarin, sementara penumpang  sibuk berbincang atau berlalu lalang. Aku naik ke dek kapal, disana tampak beberapa orang  melakukan hal yang sama. Aku menghirup aroma laut  dan membiarkan angin masuk ke pori-pori. Aku memang merindukannya. Tak ada polusi, hanya terdengar deru mesin dan tiupan angin mengguncang tubuhku.

pelabuhan punggur, batam

Marina Batam 2, kapal yang akan membawaku ke Tanjung Pinang

marina batam 2

Petugas pemeriksa tiket kapal

Menjelang siang, kapal Marina Batam 2 merapat di dermaga Sri Bintan Pura Tanjung Pinang. Menuju ke gerbang keluar pelabuhan kembali aku diteriaki orang yang menawarkan  jasa ojek atau taksi gelap yang siap membawaku ke tujuan. Aku tak terlalu menghiraukan dan berlalu begitu saja sambil melempar sedikit senyuman.

Marina Batam 2, batam

Pemandangan dari atas kapal Marina Batam 2

Marina Batam 2

Tali temali

Marina Batam 2

Dari atas kapal Marina Batam 2

Disepanjang tepi laut dekat pelabuhan  nampak tertata rapi tak seperti tahun-tahun kemarin. Penataannya mirip pantai Losari di Makassar. Pohon-pohon ditanam di pinggir jalan, sayangnya tak mampu menahan panas yang menyengat. Aku memilih untuk berteduh di bawah tugu berbentuk daun yang tak tahu maknanya dan tak hendak mencari tahu. Dikejauhan aku melihat sebuah pulau kecil. Penyengat nama pulau itu. Pulau yang menjadi bagian sejarah imporium kerajaan Melayu dimasa lalu, pulau  yang melahirkan gurindam 12 yang terkenal itu dan  pulau kecil yang melahirkan bahasa pemersatu yang digunakan sebuah negara besar bernama Indonesia. Lekat kupandangi pulau  yang terakhir aku kunjungi sekitar 5 tahun yang lalu. Sebentar lagi aku akan menuju kesana.

Pelabuhan sri bintan pura, tanjung pinang

Tiba dipelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang

pelabuhan sri bintan pura, tanjung pinang

Portir yang siap membantu penumpang kapal mengangkat barang-barang

pelabuhan sri bintan pura, tanjung pinang

Pelabuhan domestik Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang

Selesai makan siang, aku berjalan menyusuri lorong toko menuju pelabuhan Penyengat.  Sebuah pelabuhan kecil yang letaknya persis disebelah pelabuhan Sri Bintan Pura.  Tua namun masih terawat baik, itu kesanku. Aku mendaftarkan diri menjadi penumpang dan meraih life jacket yang disediakan. Kiranya karena kejadian beberapa waktu lalu dimana sebuah kapal kayu yang biasa disebut pompong terbalik dan menewaskan beberapa penumpangnya membuat otoritas jadi memperhatikan keselamatan penumpang. Sayangnya kenapa bangsa ini selalu belajar jika sudah ada kejadian yang menelan korban jiwa ?

Tanjung Pinang

Di Tanjung Pinang dengan latar pulau Penyengat

Pompong melaju,  suara mesin tempel begitu berisik  tak seimbang dengan kecepatannya. Beberapa kali berselisih dengan kapal yang lebih besar nakhoda terpaksa melambatkan kecepatannya karena khawatir ombak membalikkan kapal. Sesekali air laut masuk kedalam pompong dan membuat kacamataku berbintik terkena air asin. Sisi lengan bajuku juga ikut basah karena percikan itu.  Sebagian besar penumpang sepertinya adalah penduduk pulau Penyengat. Rata-rata mereka  berbicara dengan logat Melayu  yang kental. Sangat mirip dengan bahasa yang dipakai di Semanjung Malaysia. Sejenak aku berpikir ini Malaysia atau Indonesia 🙂

Tanjung Pinang

Gerbang dermaga ke Pulau Penyengat, banyak terdapat penjual otak-otak disekitarnya

pompong

Suasana di dalam pompong menuju pulau Penyengat

Hanya butuh 15 menit pompong sampai ke tujuan. Dengan beban ransel yang lumayan berat aku terhuyung menaiki tangga dermaga, didepanku terlihat bangunan berwarna kuning terang dengan ujung menara lancip. Masjid Sultan Riau batinku dan selamat datang di Pulau Penyengat.