Tags

, , , , , , , , ,


Waktu menunjukkan jam 13.00 wib dan langit masih tertutup mendung,  namun panas dan gerah terasa menguras energi. Aku berjalan di dermaga Pulau Penyengat dan berhenti di sebuah warung makan persis di depan Masjid Raya Sultan Riau . Aku memesan segelas es teh manis atau teh obeng dalam istilah setempat dan berbincang dengan anak pemilik warung.

Dia ramah dan bercerita tentang suasana pulau dengan logat melayu yang kental. Walaupun bukan topik itu yang jadi prioritasku tapi aku tetap mendengarkan dengan tekun. Sampai disatu kesempatan aku bertanya tentang jam keberangkatan terakhir kapal “pompong” menuju Tanjung Pinang. Dalam jawabannya dia juga sekaligus menawarkan tempat menginap. Surprise, ternyata dipulau kecil ini sudah ada penginapan dan aku tak berpikir dua kali untuk memutuskan akan bermalam disini.

pulau penyengat, kepri

Catatan perjalanan

Dengan sedikit terburu-buru teh yang terhidang dimeja kuhabiskan. Aku menitipkan ransel diwarung itu, urusan penginapan nantilah batinku. Aku tak sabar ingin segera berkeliling pulau. Becak motor yang menjadi satu-satunya moda transportasi di pulau ini kuabaikan. Dengan waktu yang cukup banyak, jalan kaki menjadi pilihan.

Aku menelusuri  jalan dihadapanku. Suasananya begitu sunyi, aku bahkan bisa mendengar langkah kakiku sendiri. Rintik hujan mulai terasa membasahi tubuh bercampur dengan keringat yang tak henti-hentinya mengucur. Aku sedikit khawatir kondisi ini akan menjadi masalah, apalagi ini hari pertama perjalanan. Kalau sakit bagaimana? Jalanan turun naik cukup melelahkan, dengan tubuh  “bejekat” benar-benar tak membuatku nyaman. Tapi kubulatkan saja tekad untuk meneruskan langkah seperti rencana semula.

Pulau kecil dengan panjang 2000 meter  ini menghadirkan banyak kisah tentang perjalanan  kekuasaan selama berabad-abad dan karya besar yang sampai saat ini masih digunakan. Kenapa dinamai Penyengat? Pertanyaan itu menggelitikku. Di kampungku Tanjung Pura sana penyengat itu adalah nama lain dari Tawon yang mekanisme mempertahankan dirinya dengan cara menyengat. Maka di kampungku itu tawon sering disebut penyengat. Apakah ada hubungannya ? Aku mencoba mencari tahu.

Seorang penjaga makam akhirnya bercerita bahwa dulu pulau ini adalah tempat persinggahan kapal untuk mengambil air tawar,  masalahnya seringkali para awak kapal itu diserang serangga/tawon  yang menyengat sehingga mereka memberi nama  pulau ini dengan nama  Penyengat atau sekarang sering disebut dengan nama Penyengat Indrasakti

Awalnya pulau kecil ini adalah mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah.  Di abad ke 18  terjadi peperangan di kerajaan Riau- Johor membuat posisi  pulau yang strategis  ini menjadi  penting,  sehingga harus dijaga orang-orang dari pulau tujuh di kepulauan Natuna. Kedudukan Penyengat sendiri berada dibawah Kesultanan Riau Lingga  yang berpusat di Daik dan diperintah oleh raja yang bergelar Yang Dipertuan Muda. Namun demikian mereka mempunyai struktur pemerintahan dan tentara sendiri.

Aku tiba di  komplek pemakaman yang didominasi warna kuning dan hijau, warna kebesaran kesultanan Melayu. Dipapan tertulis makam Raja Haji Fisabilillah /Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau IV. Dipinggir makam tumbuh dengan kokoh pohon beringin dengan sulur yang menyentuh tanah.  Suasananya mistis, sama dengan kisah tokoh  Raja Haji Fisabilillah itu sendiri. Disebelah komplek makam terlihat sebuah pondok kecil sangat sederhana tempat beberapa orang duduk. Aku menghampiri mereka dan berbincang. Arif,  petugas penjaga makam bercerita panjang lebar tentang Raja Haji Fisabilillah.  Beliau adalah Yang Dipertuan Muda IV sekaligus merupakan Yang Dipertuan Muda pertama suku Melayu, karena sebelum beliau Yang Dipertuan Muda I sampai III adalah Daeng dari Bugis. Raja Haji Fisabilillah berangkat ke Melaka dan bertempur secara heroik melawan Belanda yang melanggar perjanjian pajak kapal dan  gugur dalam pertempuran itu.  Setelah 30 tahun jenazah beliau dimakamkan di Malaka, Belanda berniat memindahkannya ke Batavia/Jakarta sebagai pusat kekuasaan VOC waktu itu.

Dalam perjalanan melewati pulau Penyengat peti keranda  terbakar. Khawatir kejadian yang tak diinginkan, kapal merapat ke dermaga Penyengat dan memakamkan Raja Haji Fisabilillah di tempat ini. Tentang kebenaran cerita ini “Wallahualam”, yang jelas belau saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu pahlawan Nasional. Disamping makam Raja Haji Fisabilillah terdapat makam Habib Sheikh Bin Habib Alwi Assegaf seorang ulama berasal dari Yaman Selatan yang menjadi guru dan pemimpin agama pada era itu.

Raja haji fisabillah

Komplek makam Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Raja Haji Fisabillah

Komplek makam Raja Haji Fisabilillah dari balik pohon beringin (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

pulau penyengat

Aku dengan beberapa pemuda di komplek makam

Puas mendengarkan cerita, aku meninggalkan Arif dengan segudang catatan dikepala. Langkah mulai tertatih karena letih. Hujan rintik berubah menjadi semakin deras sewaktu aku tiba di komplek pemakaman lainnya. Raja Hamidah atau dikenal dengan panggilan Engku Putri permaisuri dari Sultan Mahmud Shah III, Anak  perempuan pertama dari Raja Haji Fisabilillah. Menurutku,beliaulah sebenarnya pemilik pulau ini karena seperti ceritaku di awal pulau ini adalah mas kawin dari sang raja kepadanya.

Aku berteduh di kios kecil yang menjual cinderamata disebelah komplek makam. Sambil menunggu hujan reda aku sempatkan berbincang-bincang. Sayangnya tak banyak informasi yang bisa kugali. Didepan makam terdapat bangunan yang sudah kosong. Beberapa tahun lalu di dalam bangunan ini terdapat genset dengan ukuran cukup besar sebagai sumber energi listrik untuk penduduk. Sekarang tak berfungsi lagi karena listrik dipasok dari Batam melalui  kabel bawah laut.

pulau penyengat

Cinderamata berbentuk perahu lancang kuning terbuat dari kerang laut (Fujifilm Xpro 2/lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

pulau penyengat

Asbak rokok terbuat dari kerang laut (Fujifilm Xpro 2/lensa manual Carlzeiss jena tessar 50 mm f 2.8)

Penjual cinderamata di samping komplek makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/Lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

Ketika hujan mulai reda, aku ke komplek makam Engku Putri. Selain makam Engku Putri terdapat beberapa makam lain, diantaranya makam Raja Ali Haji sang pujangga dan sastrawan  istana . Dari tangannya lahir gurindam (kalimat puisi yang berisi nasehat) berjumlah 12 pasal sehingga dikenal dengan Gurindam 12. Ditulis dalam huruf Arab dan diterbitkan di negeri Belanda tahun 1854

Keduabelas pasal itu banyak dituliskan ditempat maupun makam, aku menyukainya terutama kalimat-kalimat di pasal ke-7

“Apabila banyak berkata-kata, Disitulah jalan masuk dusta. Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampirkan duka. Apabila kita kurang siasat, itulah tanda pekerjaan hendak sesat. Apabila anak tidak dilatih, jika besar bapaknya letih. Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang. Apabila orang yang banyak tidur, sia-sia sahajalah umur. Apabila mendengar akan khabar, menerimanya itu hendaklah sabar. Apabila mendengar akan aduan, membicarakannya itu hendaklah cemburuan. Apabila perkataan  yang lemah lembut, lekaslah segala orang mengikut. Apabila perkataan yang amat kasar, lekaslah orang sekalian gusar. Apabila pekerjaan yang amat benar, tidak boleh orang berbuat onar”

Engku putri

Komplek makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

dscf8992

Komplek makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

 

Engku putri

Makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Engku Putri

Komplek makam Engku Putri dari kejauhan

Dhadapanku terlihat papan petunjuk arah menuju benteng bukit kursi.  Tak jauh dari tempat itu terdapat bangunan yang tak terlalu luas, namun dibangun dengan tembok setebal lebih dari 20 cm.  ini adalah tempat penyimpanan mesiu pada masa itu. Terlihat  kokoh namun kondisinya sedikit kurang terawat.  Aku menaiki tangga tangga dan mendorong pintu kayu pelan-pelan, terdengar bunyi berderit dari engsel berkarat. Ruangan kosong, dikiri kanannya terdapat ventilasi berupa  jendela ditutupi jeruji besi. Konon kabarnya terdapat empat bangunan sejenis di pulau ini pada masa itu, sekarang hanya tinggal ini yang tersisa. Memang sejak eksodus tahun 1911 dimana lebih dari 5.000 orang  dari 6.000 jiwa penghuni memutuskan untuk pindah ke Singapura dan Johor menyebabkan banyak bangunan dijarah atau hancur dimakan waktu. Penyebab eksodus itu sendiri tak lain dari pertikaian politik dan peperangan.

 

pulau penyengat kepri, fujifilm xpro2

Gudang Mesiu (Fujifilm Xpro 2/ lensa manual Carl Zeis Jena Tessar 50 mm f 2.8)

pulau penyengat kepri,

Konon menurut cerita penduduk setempat, dulu gudang mesiu ini berjumlah empat di berbagai lokasi, namun saat ini hanya tinggal 1 yang tersisa (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

pulau penyengat kepri

Bagian pintu masuk ke gudang mesiu (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

gudang mesiu penyengat

Aku di gudang mesiu (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Sepi,  tak ada seorangpun manusia terlihat. Aku pindah ke sebuah komplek makam yang cukup luas terletak diatas bukit dengan puluhan anak tangga untuk mencapainya. Dengan semangat yang masih menyala aku menapaki anak tangga menuju makam. Dipapan tertulis Makam Raja Abdul Rahman Yang Dipertuan Muda VII. Sejarah mencatat bahwa beliaulah yang memprakarsai pembangunan Masjid Raya Sultan Riau yang terletak tak jauh dari komplek makam ini

pulau penyengat

Komplek makam Raja Abdul Rahman/ Yang Dipertuan Muda VII (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

pulau penyengat

Komplek makam Raja Abdul Rahman/ Yang Dipertuan Muda VII dari sisi berbeda (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Hari menjelang gelap, aku masih punya waktu dan memutuskan untuk mendaki bukit menuju benteng Bukjit Kursi yang tak jauh dari komplek makam Raja Abdul Rahman. Untuk mencapainya aku  melewati gerbang yang telah rusak dan taman yang tak terawat  dipenuhi semak. Uniknya benteng ini berbentuk parit dan terdapat meriam disetiap sudut yang strategis. Meriam-meriam itu konon didatangkan dari Eropa, aku melihat ada lambang VOC disetiap meriamnya. Menurut cerita penduduk pulau awalnya jumlah meriam di benteng ini ada 80, sekarang hanya beberapa yang tersisa. Walau tertutup semak aku masih bisa melihat pemandangan laut tempat moncong meriam diarahkan. Sayang mendung tak kunjung usai dan aku gagal melihat merahnya matahari terbenam.

bukit kursi

Benteng bukit kursi dikelilingi parit (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Tak mau berlama-lama aku memutuskan untuk mengakhiri perjalananku hari ini. Menuruni bukit dengan kaki yang  mulai lelah  menuju ke penginapan . Diperjalanan aku bertemu dan berbincang dengan seorang penduduk pulau, dia ramah menawarkanku untuk minum air tebu tapi dengan sopan kutolak

benteng bukit kursi

Jembatan untuk melintas benteng (Fujifilm Xpro 2/ lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

benteng bukit kursi

Susunan batu yang membentuk benteng bukit kursi (Fujifilm Xpro 2/lensa manual CarlZeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

Benteng bukit kursi

Meriam benteng bukit kursi (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

benteng bukit kursi

Meriam benteng bukit kursi (Fujifilm Xpro 2/ Lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

Penginapan Shultan berada tak jauh dari Masjid Raya Sultan Riau, aku membayar untuk satu malam sebesar Rp. 150.000,- Menempati kamar dilantai 2 aku menjadi satu-satunya tamu yang menginap malam itu. Penginapan cukup bersih dengan ukuran kamar yang luas. dan satu-satunya fasilitas yang disediakan adalah kipas angin.

Aku mulai membongkar ransel dan mencari peralatan mandi dan aku tak menemukan sabun. Diluar mulai gelap. Suara Azan magrib berkumandang dari Masjid Raya Sultan Riau, waktu tiba-tiba listrik padam dan seluruh pulau gelap gulita. Mendadak mood ku berubah, kesal karena perlengkapanku belum kubereskan dan aku belum mandi. Aku hanya melongo di sudut tempat tidur sampai akhirnya aku memutuskan untuk makan malam. Bagaimanapun aku harus menjaga kondisiku tetap sehat.

Didepan penginapan terdapat beberapa warung yang menyediakan makanan, tak banyak menu tersedia dan aku  memesan nasi goreng dan makan dikegelapan. Beberapa orang menyapaku, sambil bercanda mereka bilang bahwa inilah kondisi pulau penyengat diwaktu lampau dan aku cuma bisa tersenyum masam. Malam makin larut dan rasa malasku semakin menjadi-jadi. Waktu akhirnya listrik menyala pun aku masih tak berniat untuk mandi. Aku cuma berbaring dan menghayal dijajah rasa kesalku karena gagal memotret masijd diwaktu malam.

pulau penyengat

Masjid Raya Sultan Riau diwaktu malam (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 35 mm f 2)

pulau penyengat

Pulau penyengat di waktu malam, dari kejauhan terlihat lampu dari kota Tanjung Pinang (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 35 mm f 2)

Diluar sana suara hiruk pikuk anak kecil tak terlalu kuhiraukan, mereka berlarian karena besok adalah hari besar dimana akan diadakan pawai keliling untuk menyambut Maulid Nabi. Sejenak kupaksakan diriku mengambil kamera dan memotret Masjid dari teras penginapan. Tak ada niat untuk  keluar karena lelahku dan kemalasanku. Aku berbaring sampai tertidur melewatkan malam tanpa mimpi samasekali.

(Cerita perjalanan tanggal 11 Desember 2016)