Tags

, , , , , , , , ,


Aku terjaga, ketika sinar matahari tembus disela-sela tirai jendela kamar penginapanku. Secara reflek aku melompat dan menyibak tirai menantang cahaya yang menyilaukan mata.  Aku telah melewatkan banyak hal pagi ini.

Tak mau membuang waktu lagi, aku meraih handuk mengerjakan hal yang tertunda kemarin, yaitu mandi. Air dingin mengguyur tubuh, mengembalikan kesegaranku. Selesai mandi, terburu-buru aku merapikan semua barang yang berserakan di lantai dan menjejalkannya secara paksa kedalam ransel.

Setelah memastikan tak ada lagi yang tersisa, aku melesat menuruni tangga. Kulihat petugas jaga penginapan masih pulas diatas lantai loby. Sepertinya dia yakin sekali tak akan ada kejahatan di pulau ini. Tak mau terlalu ambil pusing, aku membuka pintu dan keluar dari penginapan. Tujuanku sarapan pagi. Tak jauh dari situ aku menemukan sebuah warung yang dibuka di teras sebuah rumah. “Kak, ada jual sarapan apa ?” tanyaku kepada seorang perempuan muda yang terlihat kelebihan berat badan.

Hanya tersedia satu menu, lontong (beras yang dimasak sampai menjadi padat)  dan tak ada pilihan lain. Aku memesannya dengan segelas kopi hitam, tak lama kemudian beberapa pengunjung lain masuk dan mulai memesan menu yang sama. Sarapan yang terasa hambar dilidah tetap kupaksakan masuk kedalam perut. Beberapa orang lalu lalang, dan saling bertegur sapa. Kebanyakan mereka hanya membahas hal-hal yang ringan, seputar bumbu masakan atau sanak keluarganya di Singapura. Dihadapanku duduk seorang kakek, berperawakan kecil, berkacamata bulat menggunakan pakaian tradisional Melayu terlalu asik menikmati sarapannya sehingga tak menanggapi senyum bersahabatku.

pulau penyengat

Menikmati sarapan pagi

Selang beberapa waktu,  masuk seorang nenek berperawakan tinggi  berkulit putih, memesan sarapan untuk dibawa pulang. Kakek berkacamata bulat memulai perbincangan dengan topik mati. Si “anu” kemarin meninggal dunia, sanak keluarganya hari ini datang dari Singapura, Si “fulan” dua hari kemarin juga meninggal dunia meninggalkan sekian anak yang masih kecil, katanya sambil terkekeh. Kelihatannya topik ini menarik dan mereka membincangkannya dengan riang gembira.

Tak ingin terlalu lama, aku meninggalkan warung kembali ke penginapan “Shultan”. Aku meraih tas kamera yang telah kusiapkan sebelumnya.  Sebelum berangkat aku minta ijin ke penjaga penginapan untuk chek out agak siang, karena aku merencanakan untuk menyaksikan pawai memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di pulau ini.

Masjid Raya Sultan Riau adalah tempat pertama kunjunganku hari ini. Lokasinya tepat di depan penginapanku, sehingga aku tak perlu bersusah payah untuk mencapainya. Masjid  berukuran 54.4 x 32.2 meter ini berdiri megah  dengan warna kuning mencolok tampak menonjol dibandingkan dengan bangunan disekitarnya.  Terdapat 13 kubah dan 4 menara  mengelilingi masjid yang berasitektur Melayu, Arab, India dan Turki.  Uniknya masjid ini adalah bentuk kubah menara yang jika dilihat sepintas mirip bentuk menara kastil di Eropa atau bangunan dari negeri dongeng Disneyland. Dengan tembok tebal mencapai 50 cm, konon mereka menggunakan putih telur   untuk merekatkan bata. Wallahualam…

pulau penyengat

Gerbang Masjid Raya Sultan Riau

Untuk masuk kedalam komplek masjid aku harus menaiki beberapa anak tangga. Pagi itu suasana sepi. Hanya ada seorang petugas yang mungkin bertanggung jawab atas kebersihan masjid. Aku melepas sepatu dan mulai berkeliling. Sewaktu aku bertanya kepada petugas yang melintas didepanku, dia tak mengijinkan untuk memotret bagian interior.

pulau penyengat

Bagian depan bangunan Masjid Raya Sultan Riau, Pulau penyengat

pulau penyengat

Masjid Raya Sultan Riau dari sisi lain

pulau penyengat

Disamping bangunan utama , terdapat bangunan lain di komplek masjid raya Sultan Riau

Memasuki bagian dalam masjid aku harus melewati dua pintu, pintu pertama terdapat sebuah ruangan yang tak terlalu besar, di bagian kiri terdapat lemari antik terbuat dari kayu, Kemungkinan digunakan untuk menyimpan kitab suci Al-Quran atau buku-buku agama lainnya. Melewati pintu kedua terdapat kotak kaca yang didalamnya terdapat kitab suci Al Quran tulisan tangan seorang penduduk pulau Penyengat yang belajar agama ke Mesir bernama Abdulrahman. Karena gaya penulisannya mengikuti gaya Turki maka ia lebih dikenal dengan nama Abdulrahman Stambul.

Didalam masjid aku tak menjumpai seorangpun. Sambil memperhatikan sekeliling aku mengeluarkan kamera mirrorless ku dari dalam tas. Cepat-cepat aku memotret. Aku telah melanggar aturan.

masjid penyengat

Interior Masjid Raya Sultan Riau berwarna putih dengan beberapa bagian termasuk mimbar di cat menggunakan warna emas

Masjid penyengat

Interior dalam masjid ditopang beberapa tiang yang cukup besar

dscf9136

Al-quran tulisan tangan yang ditulis Abdulrahman Stambul,

Puas berkeliling, aku melanjutkan perjalanan dan sampai ke bangunan yang yang diberi nama Istana Kantor. Istana yang bergaya Eropa ini dipergunakan oleh Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857) selain dipergunakan sebagai tempat tinggal Raja Ali juga memfungsikannya sebagai kantor. Inilah yang menjadi awal penyebutan nama istana ini menjadi istana kantor.  Bangunan ini terlihat kokoh namun kurang terawat. Di bagian belakang terlihat puing-puing, mungkin sisa-sisa dari bangunan lain di komplek istana ini.

istana kantor

Ruangan di gerbang masuk Istana kantor, kelihatannya digunakan untuk petugas pengawal istana atau sebagai menara pemantau

Istana kantor

Istana Kantor, Pulau Penyengat

istana kantor

Arsitektur Istana kantor bergaya Eropa

Tak hendak berlama-lama, aku  meninggalkan istana kantor yang megah dan berjalan tanpa memperhatikan arah. Tanpa sadar aku malah kembali ke Benteng Bukit Kursi yang telah aku kunjungi sehari sebelumnya.Sewaktu hendak berbalik, aku dikejutkan oleh seorang anak muda. Kiranya dia adalah petugas yang merawat benteng ini. Pemuda yang baik itu akhirnya menunjukkan jalan pintas melewati semak-semak menuju balai adat yang terletak dipinggir laut.

Aku pasrah mengikuti jalan setapak, melewati semak-semak  dan sampai disebuah lapangan sepakbola yang tak ada rumputnya sama sekali. Ternyata lapangan bola ini persis berada dibelakang Balai Adat.

Aku mulai diselimuti rasa bosan. Bangunan besar berdinding kayu itu tak terlalu menarik perhatianku. Aku lebih memilih untuk berjalan di sebuah dermaga  dan menikmati hembusan angin disana

balai adat pulau penyengat

Balai adat pulau Penyengat dari kejauhan, di dalamnya berisi pelaminan dan benda lain yang berhubungan dengan adat Melayu. Dikolong bangunan terdapat sebuah telaga yang konon apabila airnya diminum atau dipakai wudhu maka segala doa akan di Ijabah Allah SWT

Sebutir kelapa muda menjadi pengobat dahagaku siang itu. Rasa lelah dan keringat di tubuhku terusir sejenak. Beberapa orang turis disebelahku tertawa kencang sekali. Mereka berbicara dengan logat yang nyaris tak bisa kubedakan. Apakah mereka turis lokal, Malaysia atau mungkin Singapura ?

Istana engku bilik penyengat

Istana Eku Bilik yang merupakan nama kecil dari Engku Hamidah

Menjelang jam 12 siang aku meninggalkan balai adat karena teringat janji supaya tepat waktu. Menuju ke penginapan aku melewati Istana Engku Bilik yang pintunya terkunci rapat.  Demikian juga waktu aku tiba di komplek makam Yang Dipertuan Muda VI Raja Ja’far, aku hanya mengambil foto sekenanya saja.

pulau penyengat

Makam Yang Dipertuan Muda (YDM) VI Raja Ja’far

Semakin mendekati penginapan, jalan sempit yang sehari-harinya sepi, mulai ramai oleh anak-anak maupun orang tua menuju ke arah Masjid. Kiranya mereka mempunyai tujuan sama, yakni menyaksikan pawai menyambut Maulid.

pulau penyengat

Bersiap mengikuti pawai Maulid Nabi

Setelah menitipkan ransel di warung, aku larut ditengah massa. Ibu-ibu berbaju putih bersih dan berselendang biru tampak mendominasi. Dibagian depan formasi barisan drum band sudah berbaris rapi. Sesekali mayoret dengan pakaian kebesarannya melemparkan tongkat berbandul ke udara. Sebuah atraksi yang sampai kinipun tak ku mengerti maksudnya.

pulau penyengat

Ibu-ibu dari kelompok pengajian sebagai peserta pawai Maulid

pulau penyengat

Petugas pembawa kitab berdiri di barisan depan didampingi dua orang yang membawa kendi

Waktu matahari semakin tinggi dan panasnya menembus  sampai ketulang. Sang pemimpin yang dijadwalkan membuka acara sekaligus melepas  pawai tak kunjung tiba. Barisan yang awalnya  rapi perlahan mulai bubar. Ibu-ibu yang berpakaian serba putih dengan selendang biru mulai membentuk formasi kelompok. Entah apa yang mereka bicarakan.

pulau penyengat

Kitab yang dibawa dibarisan paling depan

pulau penyengat

Peserta drum band yang berteduh di pinggir masjid

Para pemain drumband tampak gelisah.  Sebagian dari mereka mulai meletakkan peralatannya dan memilih berteduh di sebelah Masjid. Anak kecil yang bertugas membawa spanduk duduk di aspal. Entah terbuat dari apa pantat mereka, bahkan sepatu bootku tak sanggup menahan panasnya, tapi buat mereka biasa-biasa saja. Pembawa acara berteriak-teriak lewat pengeras suara supaya mereka kembali kebarisan. Tapi wajah-wajah bosan itu seolah tak perduli.

pulau penyengat

Alat musik yang mereka letakkan begitu saja

pulau penyengat

Pembawa spanduk kontingen pawai

pulau penyengat

Berteduh dengan umbul-umbul

pulau penyengat

Peserta pembawa bendera

pulau penyengat

Bapak Walikota Tanjung Pinang, memberikan sambutan sekaligus melepas pawai

Disebelahku berdiri sepasang turis yang sepertinya dari mancanegara. Aku perkirakan mereka juga sama kecewanya denganku. Otakku berputar-putar, apakah aku akan tetap menunggu atau membuat rencana baru.  Menjelang jam 14.00 siang, pembawa acara kembali berteriak bahwa sang pemimpin telah merapat. Dengan pengawalan ketat beliau menuju mimbar yang terhormat. Tak ada permohonan maaf, hanya sebaris kalimat pujian dan nasehat. Aku sempat di dorong oleh seorang pengawal karena dianggap menghalangi pandangan sang pemimpin. Tapi sudahlah akupun tak mau ambil pusing.

Sayang aku tak mengikuti akhir ceritanya. Memutuskan berbalik dan mengejar kapal yang sudah menanti dari tadi. Kembali ke Tanjung Pinang dan belum memutuskan selanjutnya kemana lagi.

Pulau penyengat, Kepri 12 Desember 2016

Semua foto menggunakan kamera mirorrless Fujifilm Xpro 2, dan lensa Fujinon XF 14 mm f2.8, Fujinon XF 35 mm f2 dan lensa Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8 (with adapter)

baca juga https://armansyahputra.com/2016/12/24/semalam-di-pulau-penyengat/