Tags

, , , , , , , , , , , , , ,


Perang menciptakan peradaban baru  sekaligus menyisakan tragedy kemanuasiaan yang tak termaafkan (arman)

Vietnam 1955-1975 menjadi medan laga antara Amerika, China serta beberapa negara lain dan berimbas samapai  ke Indonesia. Sisa peninggalannya masih dapat kita lihat di Pulau Galang Provinsi Kepulauan Riau.

kamp pengungsi vietnam

Pagar kawat berduri, umumnya digunakan untuk memisahkan satu komplek bangunan dengan yang lainnya

Tak sulit untuk mencapai bekas kamp pengungsi Vietnam di pulau yang sempat menjadi tempat penampungan 250.000 orang pengungsi korban perang. Dari kawasan Nagoya (pusat bisnis kota Batam) aku dengan motor matic pinjaman berangkat pagi hari menuju kesana,  melewati kawasan industri Muka Kuning.

Pagi itu jalanan cukup ramai dengan kenderaan terutama roda dua. Mereka terlihat terburu-buru menuju ketempat kerja. Sampai di persimpangan menuju jembatan Barelang jalanan lebih sepi, akupun  mulai memacu motorku.

Barelang sendiri adalah singkatan dari Batam-Rempang-Galang. Nama yang mengacu kepada pulau yang dihubungkan oleh jembatan yang berjumlah 6 buah. Merupakan jembatan pertama di Indonesia yang menghubungkan pulau, jauh sebelum jembatan Suramadu yang menghubungkan kota Surabaya dengan pulau Madura.

Melewati jembatan demi jembatan motor bertenaga 100 cc itu semakin kencang kupacu. Gas pol istilahnya, jalanan sepi dan lebar dengan aspal yang mulus membuatku jadi lupa diri,  sampai tiba-tiba motorku oleng nyaris terjatuh akibat tiupan angin kencang dari samping. Sejenak jantungku berdegup kencang, aku coba menguasai diri dan kembali memacu motorku, namun kali ini lebih pelan dan lebih berhati-hati.

pulau Galang

Perahu yang digunakan para pengungsi untuk sampai ke Pulau Galang. Perahu kayu ini diisi 40 sampai 100 orang pengungsi

Hampir 2 jam aku menghabiskan waktu di jalan sampai juga  ke gerbang kamp pengungsian manusia perahu. Sebutan yang disematkan kepada para pengungsi karena kedatangannya menggunakan perahu kayu yang diisi antara 40 sampai dengan 100 orang pengungsi.

Setelah membayar registrasi di gerbang masuk sebesar Rp. 10.000,- (Rp. 5.000 untuk orang dan Rp. 5.000 untuk sepeda motor) aku mulai  mengelilingi kamp pengungsi.

Sisa peninggalan  pengungsi dapat dilihat  ditempat ini, walaupun sebagian hanya tinggal puing yang  termakan waktu. Kamp yang mulai beroperasi pada tahun 1979 ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap yang dibangun oleh pemerintah Indonesia dan badan PBB untuk urusan pengungsi atau UNHCR.

Ada banyak kisah tragis selama priode itu sampai akhirnya kamp ini ditutup secara resmi pada tahun 1997.  Tentang pengungsi yang menolak dikembalikan ke Vietnam pada akhir priode perang dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri dipohon,  menjadi salah satu kisah yang mengerikan sekaligus memilukan.

Aku juga mendapat cerita dari seorang bapak tua yang tak mau menyebutkan namanya di sebuah vihara, bahwa dahulu  tak hanya pengungsi dari negara Vietnam yang ada disini. Sebagian kecil juga pengungsi dari negara Cambodia. Kedua bangsa ini harus dipisahkan dan  dijaga oleh Brimob Indonesia, karena seringkali terjadi perkelahian apabila mereka bertemu satu dengan yang lainnya.

Cerita yang tak bisa ku validasi kebenarannya, karena aku tak memperoleh data lainnya. Tapi mungkin saja hal itu benar adanya, mengingat Cambodia juga menjadi salah satu medan perang pada priode itu.

Tak jauh dari gerbang masuk camp pengungsi terdapat sebuah patung yang dikenal sebagai humanity statue (patung kemanusiaan). Patung yang menjadi pengingat kisah tragis lainnya di kamp ini. Tentang seorang perempuan bernama Tinhn Han Loai yang menjadi korban pemerkosaan sesama pengungsi. Dan pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri karena tak sanggup menahan malu. Dia gantung diri persis di lokasi patung yang didirikan sebagai pengingat kejadian tersebut.

humanity statue galang

Humanity statue, mengenang kisah Tinhn Han Loai

Dibalik rumpun bambu yang lebat aku melihat sisa bangunan, kiranya  bekas gereja Protestan yang sama sekali tak terurus. Dinding bangunan nyaris tak ada lagi dan hanya tersisa kerangka bangunan dan atap seng yang nyaris lepas. Tiupan angin yang cukup kencang menimbulkan suara-suara yang cukup mencekam. Bagian utuh hanya sebuah salib yang tersandar di tiang bangunan dan hanya itu yang menunjukkan bahwa dulu banguna ini adalah rumah ibadah bagi agama Kristen.

pulau galang

begas tempat peribadatan agama Kristen Protestan

pulau galang

Kursi jemaat gereja

Aku melintasi komplek bangunan yang diberi nomer didinding bagian luarnya. semak dan sulur pohon nyaris menutup seluruh bangunan.  Aku tak tau persis fungsi bangunan ini untuk apa. Mungkin rumah karantina atau kantor staf UNHCR? Suasananya begitu sepi sampai aku  bisa mendengar suara nafasku sendiri.

pulau galang

Bagunan terlantar

pulau galang

Papan petunjuk

Tapi galang tak hanya reruntuhan, beberapa bangunan masih berdiri kokoh bahkan masih berfungsi. Rumah sakit yang masih terlihat baik walau dengan kaca jendela yang nyaris pecah semuanya. Sedangkan barak pengungsi terlihat masih utuh, sepertinya baru habis di restorasi untuk kepentingan wisata.

pulau galang

Bekas bangunan rumah sakit

pulau galang

ruangan di rumah sakit

pulau galang

Kaca jendela rumah sakit yang pecah

pulau galang

Pohon liar tumbuh di ruangan rumah sakit

pulau galang

Dilarang membuang sampah sembarangan

Bangunan tempat ibadah umumnya masih terawat seperti mushola kecil, Vihara dan gereja katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem masih megah berdiri. Dibawah papan nama gereja ini tertulis  “Galang, Memory of a tragedy past” (tragedi kemanusiaan akibat perang)

galang

Mushala tak bernama

 

pulau galang

Gereja Katolik gereja katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem pulau Galang

Aku memasuki area gereja dan berbincang dengan mama Pridi, seorang perempuan yang berasal dari Adonara, Flores NTT. Tugasnya menjaga dan merawat gereja. Mama baru bertugas tiga bulan menggantikan petugas lama yang meninggal dunia karena sakit. Dari mama aku mendapat  informasi bahwa pada saat-saat tertentu tempat ini sering dikunjungi oleh orang-orang dari Amerika sana. Tak jarang mereka meneteskan air mata sewaktu melihat tempat ini. Dapat dimaklumi mengingat keterlibatan bangsa Amerika  dalam perang itu sendiri.

NTT

Mama Pridi, pengurus Gereja Katolik dari Adonara NTT

Selain Amerika, pengunjung dari Vietnam pun sering datang. Tujuannya tentu saja untuk bernostalgia atau sekedar berziarah ke komplek makam Ng Hia Trang Grave. Tempat pemakamanan tempat 503 orang pengungsi dimakamkan yang meninggal akibat penderitaan selama perjalanan maupun karena penyakit. Memasuki komplek ini terdapat tulisan dalam 4 bahasa ;

“Dipersembahkan kepada para pengungsi yang meninggal dunia pada waktu perjalanan menuju kebebasan”

galang

Komplek makam Nghia-Trang Galang

pulau galang

Motor matic yang setia menemaniku selama perjalanan

Selebihnya sunyi yang mendominasi. Hanya sekumpulan monyet liar berkumpul di jalanan. Monyet liar yang nampak ramah dan tak mengganggu pengunjung. Ketika sebuah mobil  berhenti di sekitarnya dan melemparkan sisa sisa makanan,, hewan itu berlari gembira dan berkumpul disekitar mobil.

pulau galang

Kantor polisi Indonesia. Lantai 1 merupakan sel tahanan bagi para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal atau berkelahi

pulau galang

Pintu sel tahanan

Pintu mobil terbuka dan seorang remaja keluar sambil membidikkan senapan angin ke arah monyet yang tak sadar bahaya. Reflek aku melompat dari tempat dudukku, berlari mendekat dan berteriak gila.

“Monyet itu salah apa????”

“Monyet itu mengganggu hidup lu ???”

tak ku pedulikan moncong senapan itu bisa saja diarahkan kepadaku. Remaja itu tertunduk diam dan pelan-pelan kembali masuk kedalam mobil. Mungkin nyalinya ciut  juga.

Aku tak peduli

(Photo diambil menggunakan kamera Fujifilm Xpro 2, lensa Fujifilm 14 mm f 2.8, 35 mm f 2 dan Carlzeis 50 mm f 2.8)